Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Padasan Gentong Terpinggirkan karena Kehidupan Bertetangga Kini Berubah

Khairul Ma'arif • Minggu, 7 Januari 2024 | 18:15 WIB
ONG HARI WAHYU
ONG HARI WAHYU

RADAR JOGJA - Padasan gentong kini sudah berbeda jauh dengan dahulu. Kemajuan zaman diiringi perkembangan teknologi membuat semakin sedikit yang menggunakan. Padahal, padasan gentong pernah menjadi primadona masjid atau musala untuk sarana wudu. Banyak waga warga pedesaan yang menempatkan di depan rumah. Fungsinya sebagai sarana mencuci kaki atau tangan selepas berpergian.

Padasan gentong ditempatkan di depan rumah, agar bisa digunakan tetangga atau kerabat. Diharapkan dapat dimanfaatkan secara cuma-cuma oleh siapa saja. Namun, kata budayawan Ong Hari Wahyu, baik di depan rumah maupun sebagai sarana berwudu di masjid kini jumlahnya bisa dihitung jari.

Misalnya saja kalangan masyarakat di DIJ, masih ada yang menggunakan. Namun hanya di sudut-sudut daerah yang masih jauh terhadap akses perkembangan teknologi. Menurutnya, padasan gentong ada sudah sejak lama hingga kira tahun 1970-an.

"Sampai sekarang pun masih ada, tapi di wilayah-wilayah tertentu. Sepengetahuan saya di masjid-masjid sekarang sudah menggunakan teknologi modern, seperi pakai kran," bebernya, Jumat (5/1).

Dia tidak menampik perkembangan teknologi mengubah itu semuan. Dewasa ini sudah ada pompa air modern, tandon air yang lebih besar. Kemudahan akses itu menjadi pemenuhan kebutuhan air masyarakat menjadi efektif dan efisien. Otomatis penggunaan padasan gentong yang terbilang serba manual ditinggalkan.

Oleh karena itu penggunaan padasan gentong menjadi tergusur dan tergantikan. Masyarakat modern sekarang lebih condong terhadap segala hal yang cepat dan tepat. Apalagi, penggunaan padasan gentong dahulu belum menggunakan mesin pompa air. Masih harus menimba air lantas mengisikannya sampai penuh ke padasan.

"Efektif tidak usah nimba air. Bahkan sumur-sumur sudah sistem modern dengan suntik bor. Ini semua yang menggantikan sistem lama itu (padasan, Red)," ungkapnya.

Padasan gentong bisa disebut sebagai warisan tradisi masyarakat Jawa. Berpuluh-puluh tahun silam, penempatannya ada di depan rumah untuk cuci kaki dan tangan ataupun berwudu. Bahkan, jauh sebelum Covid-19 merebak, kebiasaan cuci tangan dan kaki sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jawa. Saat Covid-19 masih membuncah di Indonesia, masyarakat diimbau untuk rajin cuci tangan. Bahkan dari pakar kesehatan menyarankan untuk menyiapkan sarana cuci tangan di depan rumah sebelum masuk.

Bertahun-tahun ditinggalkan tetapi kembali digunakan atas dasar kesehatan saat masa pandemi. Namun sekarang penggunaannya kembali menurun dan kebiasaannya perlahan menghilang bersamaan dengan pandemi Covid-19 yang menjadi endemi.

Ong Hari Wahyu mengungkapkan, pada prinsipnya perkembangan zaman semakin maju dan sekarang serba cepat. "Maka ada beberapa kebiasaan atau teknologi lampau akan tergerus dengan yang baru. Bahkan mematikan yang lama digantikan yang baru," ujarnya.

Namun dikatakan, kemajuan zaman dan teknologi yang mengubah sebuah kebudayaan, tidak serta merta membuat kebudayaan itu harus mandeg atau berhenti. Sebab, kebudayaan itu dinamis. Padasan gentong di depan rumah saat ini sudah hilang. Tidak hanya untuk cuci kaki dan tangan ataupun berwudu. Air padasan gentong di depan rumah juga bisa untuk minum. Penggunanya bahkan bisa siapa saja yang sedang kebetulan lewat.

Dia membeberkan, hilangnya padasan gentong yang berada di depan rumah warga karena sejumlah faktor. Di antaranya karena hubungan manusia sekarang sudah berubah. Toleransi berubah, konsep guyub rukun saling pengertian juga sudah tergerus oleh arus zaman.

"Orang sekarang lebih pada mementingkan diri sendiri. Meskipun tidak semua orang loh ya. Masih ada orang baik, tapi rata-rata konsep saling pengertian sudah terkikis," tuturnya. Itulah yang mengakibatkan padasan gentong tidak lagi hadir di depan rumah warga dewasa ini.

Apalagi kondisi sekarang, kata Ong, perumahan dan kampung-kampung secara arsitekturnya juga sudah mulai berubah. Otomatis dari situ membuat gaya hidupnya berubah. Banyak rumah-rumah gaya modern meskipun itu ada di desa atau pinggiran kota.

"Banyak dibangunnya real estate, klaster-klaster perumahan secara otamatis berubah kehidupan bertetangganya. Kehidupan agraris diganti dengan kehidupan urban," tambahnya.

Kehidupan bertetangga yang berubah membuat padasan gentong terpinggirkan. Itu lantaran selain karena tidak dibutuhkan keperluan pribadi otomatis padasan gentong yang dapat dimanfaatkan tetangga atau orang lain tidak disediakan lagi oleh siapa pun.

Sementara itu, kehidupan agraris yang sudah berganti juga mengakibatkan kebutuhan akan air di padasan gentong terpinggirkan. Masyarakat agraris Jawa sepulang bertani selalu mencuci kaki dan tangannya dari padasan gentong. Sekarang sudah tidak, karena sudah memiliki alat modern yang lebih efektif. (rul/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#musala #Gentong #masjid