JOGJA - BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY memastikan okupansi hotel dan restoran di DIY bakal terdongkrak dengan perhelatan dhaup ageng atau prosesi pernikahan putra bungsu KGPAA Paku Alam (PA) X pada Januari ini di Pura Pakualaman.
Targetnya, okupansi dapat terkatrol 80 persen. Padahal, pada Januari-Februari menjadi momentum low seasion di sektor industri pariwisata khususnya perhotelan.
Ketua BPD PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, adanya prosesi Dhaup Ageng turut memicu reservasi hotel yang sudah 50 persen pada Januari ini.
Reservasi ini bukan hanya bagi mereka yang mendapatkan undangan melainkan masyarakat yang hendak menyaksikan prosesi tradisi Jawa tersebut.
"Itu baru reservasi sampai hari ini, data masih terus berjalan naik. Karena adanya prosesi dhaup ageng menjadi daya tarik bagi masyarakat, melihat dari jauh pun tidak apa-apa," katanya Kamis (4/1).
Deddy menjelaskan angka reservasi hotel di DIY pada periode Januari 2024 ini mencapai 50-55 persen.
Sementara, reservasi pada Februari tercatat 40-50 persen, jumlah itu lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023 lalu.
"Dhaup ageng ini turut menjadi pemicu lonjakan reservasi," ujarnya.
Adalun, ribuan tamu undangan dipastikan akan hadir pada resepsi yang digelar dua kali yakni Rabu 10 Januari 2024 dan Kamis 11 Januari 2024.
Sebelum resepsi digelar, ada rangkaian acara Dhaup Ageng yang bakal dilakukan. Pun rangkaian acara persiapan pernikahan tersebut sejatinya sudah dilakukan sejak Oktober 2023 lalu dengan acara bucalan, wilujengan, dan lamaran.
Sedangkan, tingkat okupansi hotel selama libur Natal dan tahun baru (nataru) lalu telah sesuai target bahkan melebihi dari target 90 persen. Tingkat hunian hotel menyentuh angka 98 persen saat libur nataru.
Jumlah itu, terutama hotel di ring wilayah Kota Jogja dan Sleman. Sementara 3 kabupaten berada di angka rata-rata 80-95 persen.
"Ini melebihi target kami yakni 90 persen juga lebih tinggi dari tahun 2023 pada periode yang sama," jelasnya.
Menurutnya, tingginya angka okupansi hotel pada periode libur nataru disebabkan DIY masih menjadi daya tarik wisatawan karena objek wisatanya.
"Karena objek wisatanya lengkap, ada wisata alam, budaya, sejarah, pendidikan dan lain-lain,"terangnya.
Selain itu, wisatawan juga bernostalgia di Jogja, mulai dari reuni SD sampai dengan universitas.
"Bahkan tidak hanya hotel, restoran juga terkena imbasnya," tambahnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad