Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

JPW Sebut Setidaknya Ada 12 Aksi Klitih Selama 2023 di DIY, Ingatkan Dapat Merusak Citra Sebagai Kota Pelajar

Khairul Ma'arif • Selasa, 2 Januari 2024 | 01:34 WIB
PADATI ZONA 1: Para pengunjung memadati kawasan Candi Borobudur, kebanyakan berasal dari kalangan pelajar. Meski batal, mereka masih belum diperbolehkan naik ke struktur candi. (Naila Nihayah/Radar Jogja)
PADATI ZONA 1: Para pengunjung memadati kawasan Candi Borobudur, kebanyakan berasal dari kalangan pelajar. Meski batal, mereka masih belum diperbolehkan naik ke struktur candi. (Naila Nihayah/Radar Jogja)

JOGJA - Jogja Police Watch (JPW) mencatat setidaknya ada 12 kejahatan jalanan atau biasa disebut klitih yang terjadi selama 2023 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Namun, jumlah tersebut bisa saja lebih karena korban tidak melapor. Angka tersebut tentu tidak sedikit karena terdapat sejumlah korban dari aksi tidak terpuji itu.

JPW mengingatkan, apabila tidak ada penanganan serius yang intens untuk mengurangin di 2024 nanti.

"Dapat merusak citra DIY sebagai Kota Pelajar," ujar Kadiv Humas JPW Baharuddin Kamba, Senin (1/1/2023).

Menurutnya, kebanyakan korban klitih mengalami luka karena senjata tajam (sajam).

Parahnya, dari kasus klitih yang terjadi, para pelaku menyasar korbannya secara acak. Tidak saling kenal antara korban dan para pelaku klitih.

Tentu, kondisi itu sangat membahayakan bagi siapa saja di DIY karena rentan menjadi korban. 

Dari catatan JPW, pelaku kebanyakan masih berstatus sebagai pelajar. Bahkan, di bawah umur.

Pelaku klitih ini menggunakan senjata tajam seperti gir, pedang maupun celurit. Mayoritas aksinya dilakukan pada malam hingga dini hari.

"JPW berharap di tahun 2024 kasus klitih dapat dicegah sedini mungkin baik oleh pihak kepolisian, pemerintah, sekolah maupun orang tua," imbuhnya. 

Dari catatan JPW 12 aksi klitih itu terjadi di sejumlah daerah di DIY. Seperti di Tanjungsari, Gunungkidul yang terjadi pada 12 Januari 2023. Warga menangkap empat orang yang diduga melakukan aksi klitih.

Keempatnya membawa Sajam berupa gir motor yang diikat menggunakan ikat pinggang. Mereka diketahui melakukan penganiayaan di ruas jalan Baron beberapa puluh meter dari Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS). Tepatnya, di Padukuhan Sumuran.

Dari tangan pelaku polisi mengamankan alat berupa gir sepeda motor yang diikatkan pada ikat pinggang.

Selain itu juga ada peristiwa pada 15 Januari 2023 yang dialami seorang perempuan asal Putat, Gunungkidul.

Diserang orang tak dikenal di Jalan Jogja-Wonosari tepatnya di Dusun Tambalan, Srimartani, Piyungan, Bantul.

Korbannya mengalami luka sobek di pipi sebelah kanan sehingga harus mendapatkan 7 jahitan dan luka parah pada hidung sehingga harus menjalani perawatan intensif di RSUD Prambanan

Sementara di Kota Jogja terjadi pada 7 Februari 2023. "Masyarakat Kota Jogja digegerkan dengan aksi klitih di Titik Nol Kilometer Kota Jogja," tambah Kamba.

Di Bantul juga terjadi pada 25 Februari 2023 kasus klitih di Jembatan Karangjati Tamantirto, Kasihan, Bantul. 

Sedangkan, di Sleman juga terjadi pada 16 April 2023 aksi klitih di Kalitirto, Berbah. Selain itu di Seyegan pada 13 Agustus 2023 aksi klitih terjadi yang mengakibatkan korbannya mengalami luka akibat bacokan oleh orang yang tidak dikenal.

Kamba meyakini, aksi klitih di DIY bisa jadi lebih dari 12 kejadian selama 2023. Menurutnya, catatan 12 peristiwa itu hanya perkiraan saja. (rul)

Editor : Amin Surachmad
#klitih #Jogja Police Watch #JPW