Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Budaya Berkain agar Menjadi Daily Wear

Fahmi Fahriza • Sabtu, 30 Desember 2023 | 05:58 WIB

 

Dilla Auliya Dina selaku fashion stylist yang fokus di kain dengan berbagai koleksi kain pribadinya.Fahmi Fahriza/RADAR JOGJA
Dilla Auliya Dina selaku fashion stylist yang fokus di kain dengan berbagai koleksi kain pribadinya.Fahmi Fahriza/RADAR JOGJA
 

 


RADAR JOGJA - Penggunaan kain tradisional dipadupadankan dengan busana modern semakin makin masif digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Fenomena tersebut turut dirasakan Dilla Auliya Dina, seorang penggiat berkain yang juga kerap mengisi workshop.


Menyoal tren berkain yang kian masif terjadi terutama di kalangan anak-anak muda saat ini, Dilla atau yang akrab disapa Kudil mengapresiasi dan merespons positif fenomena tersebut. Dia berharap tren ini tidak hanya berlangsung sesaat. Namun berkelanjutan dan berkain akhirnya menjadi hal yang normal dalam keseharian."Itu trend yang positif, seperti aku dan workshop berkain itu spiritnya ingin mengenalkan budaya berkain agar jadi daily wear," imbuhnya.


Dia sudah sering dan cukup intens mengisi workshop tentang tren ini. Secara tidak langsung kini menjadi seorang fashion stylist yang fokus pada ranah kain-kain tradisional. Dia banyak mengeksplorasi kain tradisional Indonesia mulai dari batik, tenun, ikat.”Kita biasa sebut sebagai wastra," katanya.


Kecintaannya pada kain tersebut dipengaruhi dari lingkungan asalnya yakni Pekalongan yang memang terkenal dengan batiknya. Dia makin intensif mengekplorasi ketika berkuliah di jurusan seni rupa ISI Jogjakarta.Kudil akhirnya secara konsisten terus menggunakan dan memadupadankan kain dalam setiap penampilannya. Bahkan setiap hari selalu memakai atribut yang bernuansa kain. "Justru merasa aneh kalau gak pakai,"sebutnya.


Tak hanya itu, dia pun mendapat kesempatan mengisi pelatihan atau workshop tentang berkain. Tak hanya di Jogja, tetapi juga di kota-kota lain. Termasuk yang terbaru kepada para pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Jakarta. Dia juga menerima sesi private workshop dan banyak menerima permintaan sebagai fashion stylist."Misalnya ada kebutuhan prewedding,” terangnya.
Peserta workshop berkisar di usia 17 hingga 30 tahun. Mayoritas perempuan.


Namun, ia mengaku ada beberapa irisan market lain yang hadir dan terlibat dalam workshopnya. "Misalnya ada ibu-ibu itu ikut sama anaknya, pernah juga aku ngisi workshop berkain buat ibu dan anak," paparnya.
Di sisi yang lain, tren ini juga akan berdampak positif kepada para perajin kain. Sebab, dengan permintaan pasar yang besar akan mempengaruhi jumlah produksi kain yang terus bertambah.(iza/din).

 

Editor : Satria Pradika
#Kain Tradisional #workshop #Budaya Berkain