Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kain Lilit Berkesan Modern sekaligus Lestarikan Budaya

Iwan Nurwanto • Sabtu, 30 Desember 2023 | 15:15 WIB

 

ELEGAN: Simpel dan mudah dipakai. Bisa dipadupadankan dengan fashion item lain, sehingga look-nya menjadi modern. Bisa mendukung penampilan di berbagai acara.ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
ELEGAN: Simpel dan mudah dipakai. Bisa dipadupadankan dengan fashion item lain, sehingga look-nya menjadi modern. Bisa mendukung penampilan di berbagai acara.ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA
 

RADAR JOGJA - Kain lilit atau memakai kain yang dililitkan semakin menjadi tren. Di acara-acara resmi
seperti acara adat, kondangan, wisuda, hingga acara pernikahan kerap kita jumpai perempuan memakai model ini.
Sejatinya, ini bisa dikategorikan pakaian tradisional. Karena memang material yang digunakan banyak menggunakan batik, lurik, atau sejenisnya. Nah, di zaman modern ini cara memakai kain lilit  lebih trendy dan stylish. 
Jika kebanyakan biasanya hanya dipadukan dengan kebaya, kini kain lilit membuat pemakainya semakin menawan karena dipadupadankan dengan pakaian modern seperti blouse.

 
Pengamat mode Nyudi Dwijo Susilo mengatakan, berkain untuk saat ini memang tengah menjadi tren bagi semua kalangan. Bahkan generasi pun meminatinya karena sekarang tampil berkain adalah salah satu cara mereka untuk melestarikan budaya tradisional.
Lebih dari itu, juga lebih simpel dan mudah dipakai. Sehingga, kesan ribet yang selama ini melekat pada berkain pun  sudah hilang pada pikiran banyak orang. “Selain itu berkain juga bisa dipadupadankan dengan fashion item lain, sehingga look-nya menjadi modern,” ujar Nyudi Jumat (29/12).
Desainer yang juga konseptor Jogja Fashion Parade 2023 ini menyebut, saat ini batik merupakan salah satu jenis kain yang paling diminati anak-anak muda dalam tren berkain lilit ini. Namun, kain berbahan polos dengan detail batik dan lurik pun tidak kalah menjadi favorit.


Menurutnya, tren berkain juga sudah lama hadir di Indonesia. Bahkan dalam kajian asosiasi fashion designer Indonesia Fashion Chamber, sebelum berkain sempat ada terlebih dahulu campaign sarong is my denim.
Di samping itu, kehadiran sosial media juga cukup berpengaruh dalam perkembangan tren berkain. Sebab, banyak orang yang kemudian melihat dari gadgetnya lalu ikut mencoba tren tersebut.

Di sisi lain tren berkain pun memiliki sisi positif dari segi pelestarian budaya. Banyak kemudian generasi muda yang mencintai budayanya sendiri dan berdampak pada perekonomian para perajin.“Positifnya generasi muda lebih cinta budaya dan membuat para perajin wastra (kain tradisional, Red) permintaannya bertambah,” ungkap ketua Gebyar Batik Sleman 2023 ini.  (inu/din)

Editor : Satria Pradika
#lifestyle #indonesia fashion chamber #budaya tradisional