RADAR JOGJA - Mangan opo sik ditandur, tandur opo sik dipangan. Dalam bahasa Indonesia artinya makan apa yang ditanam, tanam apa yang dimakan. Konsep sederhana itulah yang menjadi slogan bagi Asosiasi Petani Sayur Kota Yogyakarta (APSKY). Yang kini sudah menaungi lebih dari 275 kelompok tani di Kota Jogja.
Adalah Heroe Poerwadi, yang kini menjadi Ketua APSKY, yang mulai mengenalkan konsep pertanian perkotaan ke warga Kota Jogja. Tak sekadar memenuhi kebutuhan sayur dan buah sehari-hati, hasil pertanian perkotaan pun bisa menambah penghasilan hingga membuat relasi sosial warga.
"Jangan membandingkan usaha pertanian di kota dengan pertanian di Bantul atau Sleman, jangan dari hasil produksi, tapi nilai yang didapat dan peningkatan nilainya," kata HP, sapaan akrabnya kepada Radar Jogja.
Peningkatan nilai yang dimaksudnya, tak sekadar menjual hasil pertanian ke pasar. Tapi diajak untuk diolah sehingga bisa meningkatkan nilai jual. Hal itu juga membaca potensi peningkatan pendapatan di Kota Jogja aksesnya melalui wisata. Di antaranya kuliner dan oleh-oleh. Meski kampung sayur di Kota Jogja sudah banyak jadi destinasi studi tiru, tapi secara ekonomi belum banyak yang bisa diperoleh.
"Makanya yang didorong pengolahan dari hasil produksinya," jelas dia.
Ya melalui APSKY, kini para petani kota mulai diajak mengolah hasil pertanian di wilayah masing-masing. Bahkan kini, APSKY mulai membangun brand merek tunggal "Djok Neh". Djok Neh memiliki arti dijok meneh atau dituang lagi. Merujuk pada aktivitas wedhangan atau menikmati minuman yang biasanya disajikan hangat.
Wakil Wali Kota Jogja periode 2017-2022 itu mengatakan, Djok Neh adalah branding semua produk yang diolah oleh petani Kota Yogyakarta. Ini adalah lompatan usaha yang dilakukan kelompok tani di Kota Jogja. Yaitu mempunyai merk dan produk kemasan hasil pertanian. Mulai dari penanaman, panen hingga pascapanen.
Untuk menumbuhkan iklim bisnis, adanya pengolahan pascapanen, sehingga ada nilai tambah hasil panennya. Produk Djok Neh saat ini adalah kemasan olahan berupa minuman tradisional. Yaitu wedang rempah, telang, seroja pandan dan sebagainya.
Hingga saat ini olahan hasil pertanian tercatat sekitar 70 produk, dengan 62 di antaranya sudah memiliki nomor PIRT, 12 bersertifikasi halal, dan empat produk mendapat sertifikasi BPOM. Kini para petani kota pun sudah mulai mencoba berbagai wedang rempah yang diambil dari hasil panen mereka.
Ketua Kwartir Cabang Pramuka Kota Jogja itu juga memiliki mimpi, jika nantinya produk olahan pertanian Kota Jogja sudah bisa berjalan, bisa mengolah semua hasil petani kota. Bahkan jika memungkinkan hasil dari kabupaten tetangga.
Menurut suami Poerwati Soetji itu, tak menutup kemungkinan juga mengolah hasil pertanian lainnya menjadi berbagai produk. Semisal makanan. "Djok Nek itu hanya branding tapi isinya bermacam-macam," jelas HP.
Bermacam-macam, karena memang dari 275 kelompok tani di Kota Jogja juga menanam berbagai jenis tanaman. Mulai dari tanaman obat keluarga (Toga), buah dan sayur-sayuran. Dengan menanam pohon anggur, kampung stroberi atau kampung jambu.
Sedangkan untuk sayur juga yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Seperti cabai, terong, sawi dan sebagainya. Beberapa kampung pun memiliki kampung tematik.
Awalnya memang diniatkan untuk memenuhi kebutuhan sayur dan buah untuk warga setempat. Bahkan saat pandemi Covid-19 lalu, menjadi bagian dari program Gandeng Gendong di bawah kepemimpinannya, Kota Jogja memiliki program Ngluwihi lan Mbagehi hingga Dapur Balita, yaitu utk memberi asupan mengatasi stunting.
Kebutuhan gizi bagi warga yang isolasi mandiri maupun balita bisa dicukupi dari hasil pertanian warga. "Saat harga komoditi tinggi, semisal cabai, warga bisa mengambil dari yang mereka tanam sendiri," ungkapnya.
Tak hanya itu. Pertanian perkotaan yang dikembangkan APSKY pun terbukti bisa menyulap lahan tidur di Kota Jogja. Diakuinya karena keterbatasan lahan, sebagian petani kota meminjam lahan mangkrak yang belum dimanfaatkan. Dengan ditanami berbagai jenis tanaman dalam pot.
Bahkan petani kota juga sudah mulai memanfaatkan sampah dapur sebagai pupuk. "Maka tak heran jika ada lomba proklim (program kampung iklim) di kota yang menang kampung sayur," ujarnya sambil tertawa.
Tak hanya aspek ekonomi dan lingkungan. Ketua DPD PAN Kota Jogja itu juga menyebut dampak sosial. Yaitu adanya interaksi sosial bagi para petani kota di pagi dan sore hari. Tempat berkumpul atau nongkrong sembari mengurus tanamannya. Tak jarang dari interaksi tersebut menjadi tambah akrab dan muncul banyak gagasan baru.
HP berharap tumbuh petani-petani baru di Kota Jogja. Seperti pensiunan yang tetap dapat berkarya, kendati sudah memiliki keterbatasan mobilitas. Termasuk warga dari yang tidak punya ketertarikan pada pertanian, kemudian tertarik pada pertanian. Kemudian diajak untuk mengolah agar ada nilai ekonomi.
” Saya kira beriringan, dengan konsumsi sayur dan InsyaAllah meningkatkan kesejahteraan warga Kota Jogja,” jabarnya.
Editor : Heru Pratomo