RADAR JOGJA - Meriah dan semarak tidak datang dengan tiba-tiba. Bagi mereka yang percaya pada proses, kemeriahan berawal dari sebuah kesenyapan. Termasuk meriah dan semaraknya perayaan Natal di gereja-gereja.
Itulah yang dialami Paulus Shri Kristiatman, koster Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Pugeran, Jogja. Koster atau sakristan sendiri adalah seorang petugas dalam Gereja Katolik yang bertanggung jawab mengurus sakristi, bangunan gereja, dan isinya.
Belum ada lima bulan bagi Paulus menjadi koster. Semula ia hanyalah umat biasa di paroki HKTY Pugeran. Namun sejak 2019, ia ditunjuk menjadi seorang prodiakon mewakili lingkungannya. Prodiakon adalah pemimpin umat yang dipilih dari umat dan diangkat oleh uskup untuk suatu tugas tertentu. Tugasnya membantu menerimakan komuni dan melaksanakan tugas peribadatan dan pewartaan.
Kemudian pada 1 Agustus 2023, sebuah kabar mengejutkan datang menghampirinya. Paulus ditugaskan untuk meneruskan tugas koster. Di mana koster sebelumnya telah purna tugas. "Saya tidak menduga sama sekali. Padahal saya dengan koster sebelumnya sempat berpamitan. Waktu itu ditelepon Romo, langsung diserahi tugas kekosteran," ungkapnya kemarin (24/12).
Praktis hal itu sempat membuatnya kebingungan. Lantaran tidak memiliki bekal liturgis sebelumnya. Ia mempelajarinya sendiri. Tanpa sempat mendapatkan bimbingan dari koster sebelumnya. "Begitu posisi koster kosong dan setelah ditunjuk, saya langsung latihan sorenya. Sambil mikir tugasku ki opo yo,” ujar Paulus.
Namun lambat laun pria 50 tahun ini mampu menunaikan tugasnya dengan lancar. Sakristi seperti menjadi rumah kedua baginya. Ia menyebut tugas koster lebih luas ketimbang saat dirinya menjadi seorang prodiakon. Karena harus bekerja setiap harinya. Ia harus hadir dalam setiap perayaan ekaristi. Baik harian atau mingguan. Juga dalam misa khusus seperti pernikahan, orang meninggal, atau baptisan anak.
Menurutnya, menjadi koster adalah sebuah panggilan dari Tuhan agar selalu berada dekat dengan gereja. Karena saat menjadi koordinator prodiakon, ia kerap kali menugaskan prodiakon lain untuk bertugas di lapangan.
"Ya, mungkin karena dulunya sering enak-enakan, sekarang oleh Tuhan saya ‘dibalas’, di setiap peribadatan saya harus selalu ada. Kalau ada misa 10 kali, ya saya hadir di 10 misa itu,” kata Paulus.
Ia mengungkapkan, dirinya pernah merasa deg-degan saat awal bertugas menjadi seorang koster. Saat membunyikan lonceng gereja ketika doa Angelus, banyak umat yang langsung menoleh ke belakang. Memandangi dirinya dengan penuh rasa penasaran. Pada waktu itu, banyak umat yang masih belum tahu bahwa kosternya sudah berganti. “Mereka mungkin bingung, kok tarikan lonceng gerejanya beda. Wah malu saya waktu itu,” ucapnya.
Hari Raya Natal 2023 ini merupakan hari besar keagamaan pertama yang Paulus jalani sebagai seorang koster. Nuansa dan perasaannya tentu berbeda ketika sebelum menjadi koster. Dalam sukacita perayaan Natal ini, banyak hal yang harus ia siapkan. Seperti mempersiapkan untuk lima misa di hari Minggu (24/12).
"Kesannya saat menjadi koster, saya memperoleh ilmu baru yang saat ini dibutuhkan. Dari yang tidak bisa, mau tidak mau harus belajar agar jadi tahu. Banyak ilmu tentang peribadatan yang saya peroleh,” ujarnya.
Dalam peringatan Natal 2023 ini, ia berharap agar selalu diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menunaikan tugasnya sebagai koster. Karena baginya, melayani Tuhan tak perlu melulu dengan tampil di depan ‘panggung’. “Mudah-mudahan damai dan sukacita Natal kali ini bisa membawa pesan kebahagiaan bagi orang banyak,” tandasnya. (tyo/laz)
Editor : Satria Pradika