RADAR JOGJA - Kondisi masyarakat terus mengalami pergerakan yang tak ada habisnya. Masyarakat masuk di era modernisasi adalah hasil dari perubahan sosial dan ekonomi. Dipengaruhi oleh industrialisasi, urbanisasi, dan perubahan nilai-nilai sosial.
Cara hidup manusia berkembang, dari tradisional ke modern. Hal ini sebagai wujud adaptasi terhadap perubahan fungsional. Mereka beralih ke modern karena membuat pilihan rasional untuk mencapai keuntungan pribadi atau kepuasan.
Sosiolog Universitas Widya Mataram Jogja Puji Qomariyah mengatakan, perubahan perilaku manusia terjadi di segala sektor. Termasuk dalam tradisi memasak dan menyajikan makanan.
"Penting untuk dicatat bahwa beberapa masyarakat di pedesaan masih mempertahankan tradisi penggunaan semprong bambu atau metode memasak tradisional lainnya karena alasan budaya, ekonomi, atau keterbatasan akses terhadap teknologi modern," ujarnya (15/12).
Pergeseran ini dapat bervariasi antara daerah dan komunitas. Tergantung pada sejumlah faktor lokal yang memengaruhi masyarakat secara khusus.
"Adanya pergeseran dalam penggunaan semprong bambu dan pola penggunaannya di masyarakat dapat mencerminkan sejumlah faktor. Termasuk perkembangan dinamika masyarakat seiring waktu," ujarnya.
Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap perubahan ini khususnya terkait dengan teknologi memasak. Di antaranya modernisasi dan teknologi masak dan perkembangan teknologi alat memasak.
Masyarakat sekarang menggunakan kompor gas, listrik, dan peralatan dapur modern. Sehingga mengurangi ketergantungan terhadap metode memasak tradisional seperti semprong bambu. Teknologi memasak yang lebih efisien dan praktis dapat menggantikan cara memasak yang lebih konvensional.
"Ketersediaan bahan bakar modern seperti gas dan listrik di daerah perkotaan dapat menjadi faktor utama dalam menggeser penggunaan alat memasak tradisional. Bahan bakar modern seringkali lebih mudah diakses dan dianggap lebih praktis," jelasnya.
Lebih lanjut Puji mengatakan, masyarakat di perkotaan cenderung lebih eksponen terhadap teknologi dan tren modern. Urbanisasi dapat memicu perubahan gaya hidup, termasuk cara memasak. "Sehingga metode tradisional seperti semprong bambu mungkin kurang umum di kota-kota besar," tambahnya.
Maka perubahan dalam gaya hidup dan preferensi konsumen dapat mempengaruhi cara masyarakat memasak. Jika masyarakat lebih memilih metode memasak yang lebih cepat dan efisien, mereka akan cenderung beralih dari alat memasak tradisional pada peralatan yang modern dengan meninggalkan semprong bambu.
Menurutnya, pendidikan dan akses terhadap informasi dapat memengaruhi cara masyarakat memandang teknologi memasak modern. Pengetahuan tentang keuntungan dan kemudahan penggunaan peralatan modern dapat memotivasi perubahan dalam kebiasaan memasak.
"Memasak dengan kayu bakar dan penggunaan semprong akan banyak mengeluarkan asap dan sangat berpengaruh pada kesehatan ibu-ibu rumah tangga. Terutama jika proses memasak itu dilakukan di dalam ruangan yang tidak memiliki ventilasi memadai," jelasnya.
Puji menyebut, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan yang sering terpapar asap dari kayu bakar mungkin mengalami risiko keguguran atau komplikasi kehamilan. Pembakaran kayu menghasilkan karbon monoksida (CO), gas beracun yang dapat merugikan kesehatan.
"Paparan karbon monoksida dapat menyebabkan gejala seperti pusing, mual, dan bahkan keracunan fatal. Ibu hamil dan bayi baru lahir lebih rentan terhadap efek buruk karbon monoksida itu," tambahnya. (lan/laz)
Editor : Satria Pradika