JOGJA - Pemprov DIY bakal meluncurkan dua buku Bunga Rampai Aspirasi 80 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X untuk memperingati 80 tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X. Peluncuran bakal dilakukan pada Jumat malam (15/12) di Pagelaran Kraton Yogyakarta.
Dua buku tersebut bertajuk Mendengar Suara Merawat Semesta dan Berdaulat Untuk Kesejahteraan Rakyat. Buku yang masing-masingnya berisi tentang testimoni para tokoh tentang kepemimpinan Sultan dan juga tema lainnya.
Perwakilan editor Kompas Bambang Sigap Sumantri mengatakan, buku ini merupakan kumpulan esai atau makalah.
Juga kumpulan cerita pribadi tokoh nasional dan internasional dari berbagai latar belakang akademisi, budaya, dan sosial sebagai dedikasi kepada Sultan HB X.
Tulisan-tulisan yang terkumpul ini adalah bentuk perayaan dari momen istimewa ulang tahun Sultan HB X ke 80 tahun dalam hitungan jawa. Sri Sultan lahir pada 2 April 1946 Masehi.
Sedangkan nomor dasa windu Sultan ini berasal dari perhitungan kalender Jawa 1877 yang apabila dikonversi pada tahun ini menunjukan 1957.
Perayaan ini dihitung berdasarkan kalender jawa bukan tanpa alasan. Sri Sultan bukan hanya sekadar menjadi pemerhati kepentingan budaya.
Tetapi, juga seorang pelaku dan pejuang budaya budaya itu sendiri. Hal itu menjadi tolak ukur untuk Sri Sultan melaksanakan perjuangan budaya Jawa.
“Sejak muda Ngarsa Dalem aktif di berbagai organisasi sosial, ekonomi, maupun politik. Beliau dilantik menjadi Gubernur DIY sejak 1989 menggantikan ayahandanya yang wafat pada 1988," katanya Kamis (14/12).
Hal tersebut yang membuat relasi dan jangkauannya sangat luas baik nasional maupun internasional yang akhirnya menjadi narasumber penyumbang naskah dalam buku ulang tahun ini.
"Mereka dipilih langsung oleh Sri Sultan bersama Tim Editor Kompas,” ujarnya.
Ada 8 tema yang dipilih dalam bukunya yaitu Kepemimpinan Sri Sultan, Suksesi dan Keraton, Keistimewaan Yogyakarta dan Pemerintahan Provinsi di Indonesia, Global dan Pluralisme, Tradisi Budaya dan Lingkungan hidup, Sri Sultan dalam Reformasi Tahun 1998, Ekonomi Kreatif DIY, dan terakhir adalah Perempuan dan Keadilan Gender.
Para penulis ini umumnya pernah mempunyai pengalaman bekerja sama atau terlibat kegiatan dengan Sri Sultan HB X.
Mereka terdiri dari sesama pejabat pemerintahan nasional seperti menteri lembaga tinggi negara, budayawan, duta besar, dosen, intelektual, pengusaha, rohaniawan, dan wartawan. Setelahnya adalah film dan aktivitas sosial.
“Buku ini menunjukkan bahwa relasi mereka dengan Sri Sultan membentuk keunikan dalam masing-masing tulisannya yang terlihat dalam peliputannya," jelasnya.
Keunikan tersebut ditunjukkan dengan berbagai perbedaan sapaan HB X, banyak yang menyebut dengan Sultan, Ngarsa Dalem, Raja Keraton Yogyakarta juga penyebutan kata dari Sultan kemudian menulis dengan beliau cara menyebut dengan dia juga ada.
"Tim editor menghormati penyebutan ini sebagai kenyamanan dan relasi penulis dengan Sultan. Ketika dikonfirmasi, Sri Sultan pun tidak mempermasalahkan hal ini,” terangnya.
Senada dengan Bambang Chief Editor buku Mendengar Suara Merawat Semesta Heri Nugroho Djojobisono menuturkan, pihaknya telah menggandeng banyak unsur untuk dijadikan narasumber.
Proses pengumpulan naskah berjalan selama empat bulan sejak dirinya di hubungi oleh Sekprov DIY Beny Suharsono untuk penerbitan buku ini. Dalam prosesnya pun, ia banyak berdialog dengan Pemprov DIY.
“Jadi, sejak empat bulan yang lalu, saya mengumpulkan teman-teman jurnalis, kurang lebih 12 atau 13 orang untuk melakukan wawancara pada narasumber. Pemilihan narasumber juga sudah kami diskusikan matang-matang, agar bisa mewakili suara berbagai kalangan,” ungkapnya.
Sebelum buku ini diluncurkan, setidaknya dilakukan 4 kali pertemuan tim editor dengan Sri Sultan untuk membahas progres buku ini. Pertemuan itu di antaranya terlaksana dua kali di Jogja dan dua kali di rumah pribadi Gubernur DIY di Jakarta.
Pada awalnya, tim editor merasa bahwa tulisan yang ada terlalu tajam. Namun ketika hal ini disodorkan kepada Sri Sultan, beliau berpendapat lain. Beliau mengungkapkan bahwa pendapat dibebaskan agar tidak ada perilaku cawe-cawe dalam materi tulisan.
"Pernyataan ini yang menunjukkan bahwa Sri Sultan adalah seorang pemimpin yang egaliter tidak hanya dalam perkataan namun ditunjukkan secara nyata," tambahnya.
Aditya Chander visiting conductor kandidat Yale University yang terlibat dalam penampilan orkestra menyebutkan, dirinya nanti akan memainkan celo dalam peluncuran buku tersebut.
"Saya sebagai solo violin di acara nanti. Setahun lalu keraton dan kampus menjalin kerja sama sehingga saya bisa terlibat dalam acara peluncuran buku nanti. Untuk orkestra nanti kami sudah latihan seminggu ada biola celo dan sebagainya. Kami akan bawa tiga lagu semuanya klasik," imbuhnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad