JOGJA - Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono mengimbau segenap pengelola hotel dan penginapan agar tidak nuthuk atau menaikkan harga kamar secara tidak wajar di momentum Natal dan tahun baru (nataru) mendatang.
Disebutnya, kenaikan harga tetap diperbolehkan. Namun, harus menerapkan konsep ajian berkelanjutan, bukan ajian mumpung.
"Untuk harga kamar hotel anggota PHRI sudah sepakati publish rate biasa, kenaikan maksimal 15 persen," katanya, Kamis(14/12).
Kendati sudah ada kesepakatan, Deddy mengaku tetap memiliki kekhawatiran akan ada beberapa hotel dan penginapan yang nuthuk harga. Apalagi, mereka yang bukan anggota PHRI.
Kekhawatiran tersebut dinilainya cukup berasalan. Sebab, secara akumulatif dari seratus persen, baru sekitar 40 persen yang sudah menjadi anggota PHRI. Sebanyak 60 persen sisanya belum karena terkendala beberapa hal seperti administrasi.
"Besar kekhawatirannya justru yang non anggota, kalau anggota PHRI sudah sama-sama sepakat," sambungnya.
Dikatakannya, jika ada temuan kasus para hotel nonanggota tersebut menaikkan harga secara tidak wajar itu akan berpotensi merusak industri. Kepercayaan publik juga bisa menurun.
"Bukan hanya merusak destinasi dan industri, tapi juga merusak nama baik teman-teman anggota PHRI," tegasnya.
Deddy membeberkan, bahwa pemerintah daerah dan kabupaten kota sangat diperlukan untuk menertibkan lewat sosialisasi dan imbauan lebih lanjut agar tidak merusak industri dan destinasi.
"Kita harus jaga jangan sampai momen Nataru ini dimanfaatkan untuk ajang aji mumpung, tapi harus berkelanjutan untuk pariwisata DIY," pesannya.
Terpisah, Marketing Communication Artotel Jogjakarta Nada Rizqi Pratiwi mengungkapkan, secara umum Artotel juga menaikkan tarif harga kamar dan okupansi kamar. Khusus momentum nataru, bahkan sudah terisi sebanyak 90 persen.
"Ada kenaikannya, dan itu berlaku di semua tipe kamar," terangnya.
Dari pemetaan yang dilakukan, pemesan kamar hotel disebutnya dominan datang dari Jakarta dan beberapa kota lain seputaran Jawa Tengah.
"Mostly paling banyak reservasi dari Jakarta dan Jawa Tengah," ungkapnya.
Lebih lanjut ia menyebut, tidak ada event khusus yang diadakan di momentum pergantian tahun seperti perayaan dengan kembang api.
Dia menuturkan, secara umum tamu justru akan banyak pergi ke tempat-tempat wisata di momentum pergantian tahun.
"Kami tidak ada acara khusus seperti fireworks, karena sudah pasti tamu-tamu akan ke venue lain misalnya seperti Tugu (Jogja)," tandasnya. (izaiza)
Editor : Amin Surachmad