RADAR JOGJA - Memperingati Hari Relawan Sedunia yang jatuh setiap 5 Desember, YAKKUM Emergency Unit (YEU) bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) DIY menggelar Sasana Relawan DIJ pada Selasa (12/12/2023) di Jogja National Museum Bloc (JNM Bloc). Acara ini untuk memperkuat kapasitas dan keterampilan relawan dan komunitas lokal dalam penanganan bencana serta tanggap darurat yang inklusif sambil tetap mengedepankan prinsip perlindungan kemanusiaan.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menghadapi 14 potensi ancaman bencana, termasuk banjir, gempa bumi, kekeringan, dan lain sebagainya sehingga memerlukan kesiapsiagaan masyarakat. Wakil Direktur YEU dr Sari Mutia Timur mengatakan, pelatihan ini bertujuan agar semua kelompok bisa mendapat peningkatan kapasitas. Utamanya perhatian kepada kelompok berisiko yang rentan.
Itu lantaran karena pada saat bencana alam terjadi biasanya kelompok rentan seperti penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, lansia bahkan remaja sering tertinggalkan. "Pelatihan-pelatihannya seperti dapur umum, PPGD, water rescue, penanganan hewan buas, kebakaran, vertical rescue, penanganan kelompok berisiko menarik semua materinya membuat mereka tahu siapa yang harus didahulukan," katanya, Selasa (12/12/2023). Program ini bertujuan membentuk masyarakat tangguh bencana yang mampu mandiri dalam menghadapi ancaman, memulihkan diri dari dampak merugikan, dan beradaptasi di daerah rawan bencana.
Sasana Relawan DIJ berfungsi sebagai wadah pertukaran keterampilan relawan yang interaktif dan edukatif. Acara ini juga mempromosikan penanganan bencana yang inklusif dan inovatif dengan prinsip perlindungan melalui peran aktif relawan dan kepemimpinan masyarakat. Pesertanya sekitar 200-an orang, semuanya berasal dari DIY.
Dalam situasi darurat, masyarakat seringkali menjadi first-responder atau potensi lokal pertama dalam menanggulangi bencana. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan keterampilan relawan dalam penanganan tanggap darurat menjadi sangat penting. Sasana Relawan DIY menghadirkan keahlian relawan dalam penanganan tanggap darurat melalui informasi yang praktis dan dapat digunakan oleh masyarakat.
Sari menegaskan, dengan meningkatkan kapasitas dan keterampilan melalui pelatihan semacam ini menjadi mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan. Dengan begitu, kerugian dampak bencana menjadi tidak menjadi besar atau bahkan tidak ada. "Hujan satu jam atau dua jam harus waspada, kelompok rentan harus diungsikan terlebih dahulu. Intinya siap siaga sebelum bencana tentunya bukan malah saat sudah terjadi," tuturnya.
Sari mengaku, pengurangan risiko bencana dan sosialisasi edukasi dampak perubahan iklim memang menjadi mandat YEU bersama masyarakat, khususnya untuk emergency response. Pelatihan bertujuan untuk belajar bersama terkait pengurangan risiko bencana. Seluruh peserta diharapkan dapat terlibat aktif dan berbagi pengalaman bersama.
Sementara itu Kepala BPBD DIY Noviar Rahmad mengaku, pelatihan ini sangat berguna. Itu lantaran DIY sudah diperingatkan akan adanya dan bahaya bencana alam hidrometeorologi seperti banjir, longsor, angin puting beliung, angin kencang, dan gelombang tinggi. "Nah ini masyarakat perlu diingatkan perlu diedukasi supaya kita mengurangi korban dan dampak seminimal mungkin baik itu kerugian nyawa, material atau apapun diharapkan dengan adanya pelatihan ini bisa mengurangi semuanya," ucapnya.
Selain itu, menurutnya, kegiatan yang diinisiasi YEU ini tentu akan dapat disebarluaskan dengan baik. Itu lantaran masyarakat yang mengikuti latihan itu dapat menularkan kepada orang terdekatnya. Pelatihan yang dilakukan mendapat meningkatkan kapasitas dan pemahaman dari instruktur pelatihan.
Dalam sambutannya Noviar menyebutkan, sebagai relawan kebencanaan harus memiliki kapasitas yang cukup. Peningkatan kapasitas, serta pelatihan adalah hal yang perlu untuk dilakukan. Menurutnya, tidak pernah tahu kapan bencana itu akan datang, oleh sebab itu yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan untuk mengurangi risiko bencana yang ada. (rul/laz)
Editor : Satria Pradika