Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Lesung di Mata Guru Sejarah: Jadi Alat Tumbuk Biji-bijian Sekaligus Hiburan Klotekan Wujud Syukur

Wulan Yanuarwati • Sabtu, 25 November 2023 | 17:21 WIB
TRADISI: Guru Sejarah SMAN 11 Kota Jogja Kurniawati. (Dok Pribadi)
TRADISI: Guru Sejarah SMAN 11 Kota Jogja Kurniawati. (Dok Pribadi)
 
 
 
JOGJA - Lesung merupakan alat tradisional yang digunakan untuk mengolah padi atau gabah menjadi beras.
 
Lesung digunakan pada zaman dahulu, perkembangan teknologi belum pesat selerti saat ini. Sehingga proses pemisahan kulit padi atau gabah menjadi beras harus dilakukan secara manual. 
 
Fungsi lesung di beberapa wilayah rata-rata hampir sama, yakni untuk menumbuk padi atau biji-bijian lain.
 
Saat ini lesung masih bisa ditemui beberapa di Kecamatan Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, hingga Desa Pasir Kabupaten Pemalang Jawa Tengah.
 
 
"Di era modern seperti sekarang ini mungkin banyak anak muda yang tidak mengenal apa itu lesung," ujar Guru Sejarah SMAN 11 Kota Jogja, Kurniawati pada Jumat (23/11/2023).
 
"Mereka mungkin lebih mengenal alat-alat yang lebih canggih untuk menghaluskan bahan-bahan makanan seperti blander atau mesin penghalus lainnya," lanjutnya.
 
Meski lesung sudah tidak digunakan lagi. Namun penting bagi setiap orang mengetahui perkembangan proses mengupas padi menjadi beras dari waktu ke waktu. Salah satunya ialah dimulai dari lesung.
 
"Fungsi alat ini memisahkan kulit gabah dari beras secara mekanik, dan juga bisa mengolah biji kopi menjadi bubuk kopi dan biji-bijian lainnya," jelasnya. 
 
 
Selain memiliki fungsi menghaluskan atau menumbuk bahan, makanan lesung juga digunakan untuk sebagai sarana hiburan. Guru yang kesehariannya dipanggil Nia ini mencontohkan di daerah Banjarnegara.
 
"Pada zaman dahulu klotekan adalah suatu hiburan yang dilaksanakan ibu-ibu petani zaman dahulu dengan memukul-mukulkan alat penumbuk padi sehingga menimbulkan nada-nada tertentu dan terdengar alami," jelasnya.
 
Pada pentas itu digunakan satu buah lesung dan ada 8 ibu-ibu petani yang bertugas menabuh lesung. Kemudian ada 12 perempuan berperan sebagai petani sedang menanam padi. Didukung oleh 8 pria yang berperan sebagai petani yang membawa hasil panen. 
 
 
"Klotekan sebagai hiburan namun sekaligus perwujudan dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena panen berhasil," imbuhnya.
 
Lebih lanjut Nia mengatakan lesung memiliki beragam bentuk. Diantaranya ada yang berbentuk seperti perahu memanjang dan memiliki beberapa lubang. Namun, ada juga yang hanya memiliki satu lubang. 
 
"Biasanya tergantung wilayahnya misalnya lesung berbentuk atap joglo terbalik," imbuhnya.
 
 
Papan lesung dijadikan wadah yang digunakan untuk menempatkan bahan yang akan di tumbuk. Didukung alat bernama Alu, yakni alat yang digunakan untuk menumbuk.
 
Bentuk alu memanjang seperti batang lurus dengan bentuk segi banyak, bisa 8 hingga 10 segi pada salah satu ujungnya dan bentuk bulat pada ujung lainnya. Namun, ada alu yang ujungnya tidak bersegi-segi, tetapi hanya berupa tonjolan.
 
"Alat alu terbuat dari kayu ulin. Pemilihan bahan alu sabagai alat penumbuk mengharuskannya terbuat dari unsur yang keras, padat dan berat, sehingga akan mempercepat dan mempermudah pekerjaan menghaluskan padi atau biji-bijian," jelasnya. (lan)
 
 
Editor : Amin Surachmad
#lesung #Hiburan #bahan makanan #Guru Sejarah