Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Industri Tekstil di DIJ Lesu

Khairul Fahmi • Selasa, 21 November 2023 | 15:40 WIB
TEKSTIL : IAPE 2023, Pameran Indonesia Apparel Production Expo di Kota Solo berlangsung 2 hingga 4 Maret 2023. (ISTIMEWA)
TEKSTIL : IAPE 2023, Pameran Indonesia Apparel Production Expo di Kota Solo berlangsung 2 hingga 4 Maret 2023. (ISTIMEWA)

RADAR JOGJA - Industri tekstil di wilayah DIJ lesu setahun terakhir. Hal ini disebabkan oleh isu geopolitik hingga maraknya produk impor yang masuk ke Indonesia termasuk DIJ.

Pengamat ekonomi sekaligus dosen UAJY Y Sri Susilo mengungkapkan, secara objektif dia menilai anjloknya atau penurunan industri tekstil di DIJ sudah terjadi sejak tahun lalu. Dan makin terasa setelah pertengahan tahun ini.

"Produksinya menurun, karena yang pesen atau yang beli kan juga tidak ada," katanya kemarin (20/11).

Dia menuturkan, dalam kondisi lapangan industri tekstil saat ini sudah ada beberapa pihak yang melakukan PHK terhadap karyawannya. Sedangkan pihak yang belum melakukan PHK, secara umum mengurangi jumlah jam kerja dan beban produksi yang dilakukan.

"Itu dilakukan agar cost tidak over, mereka tetap bekerja meski penghasilan turun," ungkapnya.

Disebutnya, untuk membantu industri tekstil tetap bertahan pemerintah sendiri telah memberikan insentif berupa fiskal atau pajak. Selain itu juga ada insentif tambahan, yakni revitalisasi mesin sehingga bisa me-recovery usaha.

Sri Susilo menyebut, jangka panjang untuk insentif tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Karena industri tekstil sendiri banyak yang meragukan keberlanjutannya. Sementara dia meyakini, bahwa industri tekstil masih memiliki potensi untuk bertahan bahkan tumbuh.

"Industri tekstil tetap harus didukung, meski memang permintaan produknya fluktuatif," tuturnya.

Terpisah, Ketua Badan Pengurus Provinsi (BPP) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) DIJ Iwan Susanto membeberkan, selain geopolitik dan porduk impor, salah satu tantangan yang juga dihadapi industri tekstil saat ini adalah soal e-commerce dan sosmed. Sebab secara dampak, sangat berpengaruh pada toko atau industri konvensional.

"E-commerce jelas berdampak, bahkan kondisinya memprihatinkan di beberapa tempat," ujarnya.

Iwan meyakini, salah satu langkah yang perlu diambil untuk terus menyetabilkan industri tekstil salah satunya adalah dengan tetap menjaga dan mengamankan market lokal. Disebutnya ancaman global termasuk produk impor menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat ke produk lokal.

"Kita harus jaga market lokal dari gempuran impor, kita butuh support maksimal dari pemerintah," harapnya. (iza/eno)

Editor : Satria Pradika
#industri tekstil #dosen UAJY