RADAR JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebaran hujan di wilayah Jogjakarta belum merata. Sebagian besar kapanewon di lima kabupaten dan kota juga mengalami kekeringan ekstrem. Atau belum diguyur hujan lebih dari dua bulan.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono mengatakan, dari catatan ada 57 kapanewon di DIJ yang masuk kategori kekeringan ekstrem. "Wilayah DIJ pada umumnya kategori tidak hujan, kecuali Sleman bagian utara yang masuk dalam kategori hujan ringan dengan curah hujan 0,5 - 20 mm per hari," ujar Warjono kepada Radar Jogja, Rabu (1/11).
Terkait dengan potensi curah hujan di bulan ini, pria yang akran disapa Jojo itu mengungkapkan, pada dasarian I sampai dengan III November diperkirakan masih dalam kategori rendah. Lantaran curah hujannya berkisar antara 0 sampai dengan 50 mm yang bersifat hujan di bawah normal.
Kondisi tersebut dikarenakan angin di wilayah Indonesia selatan ekuator masih didominasi angin timuran. Serta dengan anomali suhu muka air laut di perairan selatan Jawa pada kisaran -3,0 derajat celcius sampai dengan -0,5 derajat celcius. Atau pada suhu udara dari 24 derajat celcius sampai dengan 28 derajat celcius. "Untuk suhu masuk kategori dingin," terang Jojo.
Untuk lokasi kekeringan ekstrem di Bantul meliputi kapanewon Pundong, Imogiri, Kasihan, Jetis, Piyungan, Sewon, Bantul, Dlingo, Banguntapan, Sedayu, Pleret, Srandakan, Kretek, Bambanglipuro, Sanden, Pandak, dan Pajangan. Kemudian di Gunungkidul di kapanewon Ngawen, Wonosari, Gedangsari, Girisubo, Karangmojo, Tepus, Nglipar, Playen, Rongkop, Semanu, Tanjungsari, Panggang, dan Paliyan. Lalu di Kota Jogja sebaran wilayah yang belum diguyur hujan ada di Kemantren Tegalrejo, Umbulharjo, dan Danurejan.
Kemudian di Kulonprogo meliputi Kapanewon Girimulyo, Wates, Galur, Kalibawang, Lendah, Sentolo, Samigaluh, dan Nanggulan. Sementara di Sleman Prambanan, Kalasan, Ngaglik, Depok, Berbah, Gamping, Godean, Pakem, Seyegan, Minggir, Sleman, Prambanan, Mlati, Ngemplak, Moyudan, dan Tempel.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan menyatakan, bahwa selama musim kemarau pihaknya sudah melakukan droping air bersih sebanyak 2,6 juta liter. Penyaluran air bersih itu dilakukan di 55 padukuhan yang tersebar di 17 kalurahan di kabupaten Sleman. "Untuk masyarakat yang terdampak kekeringan kami catat ada 3.181 kepala keluarga atau sebanyak 11.147 jiwa," beber Makwan.
Sedang Kepala Pelaksana BPBD DIJ Noviar Rahmad mengatakan, bantuan air bersih telah disalurkan sebanyak 31 juta liter ke 33 kapanewon terdampak kekeringan di DIJ. "Tapi sekarang yang tinggi dampaknya di Sleman, tapi Sleman utara kemarin sudah hujan," katanya di Kompleks Kepatihan Rabu (1/11).
BPBD DIJ masih menyiagakan bantuan air bersih untuk disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan di tingkat kabupaten. Pun, tidak hanya pemerintah saja yang menyiapkan bantuan air bersih tersebut. Karena juga ada yang dibantu oleh CSR dan pihak ketiga. "Bantuan ada dari pihak ketiga serta relawan-relawan yang memberikan sumbangan air," jelasnya.
Hanya, yang perlu diwaspadai ketika memasuki Februari karena curah hujannya lebih tinggi. Dan ini bisa berpotensi terhadap bencana. Masyarakat diharapkan meningkatkan kewaspadaan akan dampak yang terjadi. "Kepada masyarakat kita juga sudah meningaktkan kewaspadaannya akan bencana ketika hujan dan angin kencangnya," terangnya.
Adapun, hingga saat ini baru Kulon Progo saja yang mengakses anggaran belanja tak terduga (BTT) senilai Rp 168 juta untuk penanganan kekeringan di wilayahnya. Sementara kabupaten lain masih bisa melakukan penanganan dengan anggaran APBD reguler. (inu/wia/pra)
Editor : Heru Pratomo