Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tujuh Ribu Lurah dan Pamong Siap Berkumpul di Monjali, Ingin Dengar Sapa Aruh HB X Jelang Pemilu 2024

Winda Atika Ira Puspita • Sabtu, 28 Oktober 2023 | 02:39 WIB
NYAWIJI: Konferensi pers Jogja Nyawiji ing Pesta Demokrasi di Kmpleks Kepatihan Jogjakarta Jumat (27/10). (Winda Atika Ira P/Radar Jogja)
NYAWIJI: Konferensi pers Jogja Nyawiji ing Pesta Demokrasi di Kmpleks Kepatihan Jogjakarta Jumat (27/10). (Winda Atika Ira P/Radar Jogja)

 

RADAR JOGJA - Sekitar tujuh ribu lurah dan pamong desa atau kalurahan bakal memenuhi kawasan Monumen Jogja Kembali (Monjali) Sabtu pagi (28/10).

Mereka ingin mendengar Sapa Aruh Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X sekaligus Gubernur DIY HB X terkait menyongsong pesta demokrasi 2024 mendatang.

Sekretaris Jenderal Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan DIY Nayantaka Soehadi mengatakan, kegiatan bertajuk Jogja Nyawiji ing Pesta Demokrasi lebih kepada memohon arahan HB X sebagai pemangku keistimewaan.

Terlebih, seiring gaung reformasi kalurahan merupakan upaya Gubernur DIY memberdayakan masyarakat.

Arahan itu penting menjadi nyawa para lurah, pamong desa maupun kalurahan yang akan menjadi gethok tular dan komando paling bawah untuk masyarakat.

"Kami ingin menjadi suksesi dari biro kalurahan dan testis pertama yang kita lakukan adalah menjaga agar seluruh DIY di pesta demokrasi bisa berjalan lancar dan sukses tidak mencerai beraikan embrio golong gilig DIY," katanya dalam konferensi pers di Kompleks Kepatihan Jogjakarta Jumat (27/10).

Soehadi menjelaskan ide gagasan ini tidak ujug-ujug tetapi terinspirasi dari falsafah keistimewaan DIY bahwa rentan tahun 1946 sampai 1949 Jogjakarta sempat menjadi ibu kota negara.

Kala itu, lurah dan pamong kalurahan menjadi pagar praja untuk mempertahankan eksistensi wilayahnya.

"Artinya, bahwa embrio kultur kita sudah golong gilig, bahkan kemudian ada reaksi yang keluar manunggaling kawula gusti sehingga dari hal ini yang Jogja sudah semangat golong gilignya sudah mengakar. Kemudian, Nayantaka membuat ide ini," ujarnya.

Sehingga, pesta demokrasi tidak diartikan secara berlebihan yang berakibat justru mencederai sosial dan kemanusiaan.

"Sehingga kita mohon arahan dan mendapat arahan yang kemudian ini kita konsep kegiatan Jogga Nyawiji ing Pesta Demokrasi," jelasnya.

Menurutnya, nyawiji bukan berarti dikonotasikan satu hal yang negatif. Melainkan lebih pada agar tetap menjaga golong gilig istimewa DIY dalam pesta demokrasi. Dan embrio paling bawah berperan adalah lurah, pamong kalurhan termasuk dukuh.

"Untuk itu konteks kita, karena lebih diutamakan sebagai pemangku keistimewaan tidaklah mudah dan tidak bukan yang kita suwuni pituah atau arahan adalah Ngarso Dalem," terangnya.

Acara tersebut yang dihadiri oleh seluruh lurah, pamong kalurahan hingga dukuh karena disebut agar mereka bisa mendengar arahan Raja Keraton secara langsung. Pun ini juga komitmen mereka dalam mensukseskan Pemilu 2024.

"Sementara ini hanya pengurus-pengurus yang mendengar arahan beliau maka akan kita sampaikan kepada Indonesia bahwa di DIY telah terjadi golong gilignya kawulo dan gustinya untuk mensukseskan pesta demokrasi 2024," tambahnya.

Bertepatan dengan momen sapa aruh tersebut, para lurah dan pamong juga akan mengadakan deklarasi pemilu damai. Ada sejumlah poin yang akan diserukan peserta aksi.

Meliputi kesiapan menjaga keamanan dan ketertiban jelang musim politik, menghormati perbedaan, dan mengedepankan kepentingan umum. Selain itu, memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan bermasyarakat sebagai keluarga besar.

"Deklarasi ini walaupun kami yang inisiasi, masyarakat boleh ikut menyerukan. Karena pada prinsipnya ini adalah deklarasi seluruh masyarakat," imbuhnya.

Kepala Biro Tata Pemerintahan (Tapem) Sekretariat Daerah (Setda) DIY Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara mengatakan, lurah di DIY ingin mendengar arahan langsung dari Sri Sultan HB X sebagai Raja Keraton dan pimpinan daerah karena sebentar lagi Indonesia akan memasuki tahun politik.

Terlebih para lurah juga merasa memiliki tanggung jawab untuk berpartisipasi dalam menjaga kondusifitas dan kesuksesan Pemilu di DIY.

"Apalagi sudah disampaikan kalurahan sudah menjadi pemangku keistimewaan. Dengan adanya kegiatan ini harapannya lurah ingin adanya dawuh dari Ngarso Dalem (HB X) tentang pesta demokrasi yang ada di depan mata. Artinya para lurah ingin punya tanggung jawab untuk menjaga kestabilan politik, ekonomi, dan lain-lain," katanya.

Sementara itu, Sekprov DIY Beny Suharsono menambahkan, gelaran bertajuk Jogja Nyawiji ing Pesta Demokrasi tersebut sekaligus untuk menegaskan sikap dan tekad para lurah dan pamong kalurahan sebagai pemangku keistimewaan.

Selain itu, juga untuk bersama-sama mewujudkan Pemilu yang jujur, adil, aman, damai, dan bermartabat, khususnya bagi warga DIY dan seluruh rakyat Indonesia.

"Sebab, Jogja istimewa bukan hanya untuk DIY saja, tapi juga untuk Indonesia," katanya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#HB X #Hamengku Buwono X #pamong desa #Monumen Jogja Kembali #lurah