RADAR JOGJA - Kreativitas warga Jogja untuk mendaur ulang sampah tak perlu diragukan lagi. Apalagi usai kondisi darurat sampah terjadi di Kota Jogja, banyak bank sampah yang semula mati suri kini hidup kembali. Tak hanya menampung dan menjual kembali sampah dari nasabah kepada pelapak. Biasanya bank sampah juga turut mengolah sampah menjadi produk-produk bernilai pakai dan bernilai jual.
Salah satunya adalah Bank Sampah Kamulyan milik warga RW 22 Lowanu, Kelurahan Brontokusuman, Kemantren Mergangsan. Para nasabah dan warga RW 22 Lowanu mampu menyulap sebanyak 10 kg sampah kemasan plastik menjadi kreasi fesyen. Hasilnya, turut ditampilkan pada gelaran Kirab Budaya, Jumat lalu (13/10).
Ketua Bank Sampah Kamulyan Bakhriah Sufiatun menjelaskan pihaknya mengirimkan 23 perwakilan untuk turut serta mengikuti Kirab Budaya. Perempuan yang biasa disapa Upik ini juga mengatakan masing-masing peserta mengenakan pakaian dengan unsur daur ulang. Ada beberapa fesyen maskot yang dibuat.
Maskot pertama dibuat menggunakan sampah kemasan plastik yang didominasi oleh warna merah dan silver. Dibentuk seperti gaun lengkap dengan properti sayap, aksesoris kepala, hingga tongkat yang juga dibuat dari sampah plastik kemasan. "Terdiri dari bahan plastik saset bekas kemasan bumbu masakan, bagor, tutup botol, plastik bekas payung (silver), hingga kresek bekas," ujar Upik saat diwawancara, Minggu (15/10).
Tak hanya itu, produk fesyen lainnya juga dibuat sampah koran bekas. Konsepnya hampir sama, yakni dibentuk layaknya gaun. Model maskot tampak semakin cantik dengan hiasan mahkota, sayap, hingga tongkat yang dibawa. Menurut Upik, bukan barang mudah mengubah sampah menjadi kreasi fesyen. Dia bersama warga lainnya menghabiskan waktu kurang lebih dua minggu untuk proses pembuatan. Inspirasi dia dapatkan melalui referensi video di Youtube."Kendalanya di bahan pembuatannya yang benar-benar dari saset bekas. Kalau ada yang meminta membuatnya lagi mungkin harus ngumpulkan dulu dalam waktu yang lama," jelasnya.
Menurut Upik, ini menjadi salah satu upaya Bank Sampah Kamulyan dalam mengolah sampah anorganik. Selain diubah menjadi produk fashion, pihaknya juga mengubah sampah kemasan plastik menjadi lampion dan produk ecobrick. "Kami pasang lampion di seluruh wilayah RW 22," katanya. (isa/pra)