JOGJA - Pemprov DIY menggencarkan operasi pasar untuk merespons harga kebutuhan pokok yang tak kunjung turun salah satunya beras. Operasi pasar dilakukan di sejumlah pasar tradisional sebagai upaya menekan harga di pasaran.
Kepala Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Sekretariat Daerah DIY Yuna Pancawati mengatakan, harga beras di pasaran memang masih tinggi rata-rata beras medium dibanderol Rp 13.600 dan beras premium Rp 15.100 per kilogram.
"Sebenarnya kita sudah berupaya walaupun memang belum panen bulan ini, panennya dua bulan lalu," katanya ditemui di Kantornya kemarin (12/10).
Yuna menjelaskan upaya yang terus digencarkan adalah bantuan pangan melalui operasi pasar menyasar 4 pasar pantauan meliputi, Pasar Demangan, Beringharjo, Kranggan, dan Prawirotaman.
Saat ini masih ada 10 kali giat operasi pasar dengan total 259 ton bahan pangan yang difokuskan beras akan disalurkan dan ditargetkan selesai sebelum akhir tahun 2023 ini.
Operasi pasar itu juga akan diselenggarakan di lima kabupaten dan satu kota se-DIY. Masing-masing kabupaten/kota akan mendapat alokasi bahan pangan sebanyak 21 ton.
"Kemudian upayanya juga ada gerakan pangan murah dari DPKP hingga akhir tahun masih dilaksanakan 20 kali dengan rata-rata 9 ton," ujarnya.
Baca Juga: 7.239 KPM Kembali Digelontor Bantuan Beras
Selain itu, Bulog juga turut serta untuk menekan gejolak harga beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Hingga akhir tahun, beras SPHP Bulog ini tersedia 6 ribu ton. Sejauh ini sudah menyalurkan 3.500 ton beras kepada masyarakat sampai bulan ini.
"Jadi, sebenarnya banyak cuma memang belum panen itu dan masih menunggu keran impor dibuka lagi," jelasnya.
Upaya lain juga adanya kios Segara Amarta di Pasar Prawirotaman sebagai upaya penyeimbang harga yang melambung di pasaran.
Salah satu bahan pangan yang dijual adalah beras, disamping gula, telur dan segala macam. Bahan pangan yang dijual di kios tersebut sesuai harga eceran tertinggi (HET).
"Kalau pedagang lain menjual harga tinggi mereka lihat segara amarta kok jual dengan harga rendah, kan menyesuaikan situ mesti. Nah itu untuk penyeimbang kalau harga lainnya tinggi-tinggi," terangnya.
Baca Juga: Gelar Operasi Pasar, Jual Beras Rp 10.900
Menurutnya, kenaikan harga beras ini tidak hanya terjadi di DIY melainkan secara nasional. Penyebabnya adalah musim kemarau panjang akibat fenomena El-Nino. Sementara pemerintah baru mulai mengimpor beras akhir bulan nanti.
Pun harga gabah di tingkat petani juga mengalami kenaikan, praktis turut berpengaruh pada kenaikan harga beras.
"Itu yang jadi biaya produksinya meningkat dan pasokan beras juga belum bertambah karena belum memasuki masa panen," tambahnya.
Kendati begitu, dipastikan seluruh ketersediaan bahan pangan termasuk beras di wilayah DIY mengalami surplus tiap pekannya. Namun, dinas terkait tetap diminta bersiaga.
Sebab, neraca ketersediaan pangan dan kebutuhan pangan pokok belum memperhitungkan kebutuhan pangan yang disumbang dari warga luar DIY seperti mahasiswa dan wisatawan.
"Karena ada mahasiswa, ada banyak MICE juga dan banyak wisatawan. Dari mulai beras minyak gula dan sebagainya tiap harinya surplus tapi belum mempertimbangkan kehadiran pendatang," imbuhnya. (wia)