JOGJA - Harga komoditas beras terpantau tak kunjung turun di Pasar Beringharjo Kota Jogja. Bahkan, beras premium menyentuh Rp 16 ribu per kilogram. Pedagang pun keuntungannya menipis. Ini diperparah dengan kondisi sepinya pembeli.
Seorang pedagang Mentuk mengaku, harga beras masih naik. Harga beras paling mahal adalah jenis raja lele menyentuh Rp 16 ribu per kilogram. Paling murah Rp 13 ribu per kilogram jenis C4.
"Normalnya dulu Rp 11 ribu (per kilogram), raja lele Rp 15 ribu sekarang Rp 16 ribu. Kalau sudah naik biasanya angel (susah) turunnya," katanya ditemui di Pasar Beringharjo Kamis (12/10).
Meski terjadi kenaikan beras, Mentuk menjelaskan, tak mempengaruhi kualitas beras yang dijualnya. Kualitas beras yang dijual tergolong baik dan barang tidak mengalami kelangkaan. "Barangnya gampang, kualitas sae (bagus)," ujarnya.
Menurutnya, kenaikan tersebut berdampak pada jumlah beras yang dibeli oleh pelanggannya. Di samping sepi pembeli, pelanggan pun saat ini membeli beras turut dikurangi hingga 50 persen. Praktis, keuntungan yang diperoleh juga tak sebanding dengan modal yang dikeluarkan.
"Sehari kadang (persediaan) satu kuintal. Tapi, ning ya beda, biasanya (pelanggan) beli 10 (kilo) sekarang hanya 5 kilo. Ya, harus bali modal. Sekarang laku, langsung untuk kulakan lagi. Le kulak saiki, dol saiki," jelasnya.
Pedagang lain, Derajat, mengatakan hal senada. Permintaan beras saat ini sepi, kondisi ini terjadi sejak sepekan terakhir ini. Biasanya dalam sehari permintaan beras rata-rata 1 sampai 2 kuintal. "Sekarang satu sak saja udah untung," tandasnya.
Derajat menyebut rata-rata beras medium yang dijual diharga Rp 14 ribu sampai Rp 15 ribu per kilogram. Harga beras paling murah Rp 13 ribu jenis C4 dan beras Bulog Rp 55 ribu per 5 kilogram.
"Ya, jalanin saja, keuntungan lebih kecil nggak masalah, yang penting uangnya muter. Sekarang lagi lesu sekali, raketang cuma buat makan, bisalah." terangnya.
Pedagang nasi bungkus keliling, Yanti, menjadi salah satu yang terdampak terhadap kenaikan harga beras. Dia biasanya menjual 30 bungkus nasi, dikurangi menjadi 15 bungkus saja.
Pun biasanya dalam sehari menghabiskan 3,5 kilogram beras ditekan menjadi hanya 2 kilogram saja. Ini karena kondisi pembeli juga berkurang, untuk mengantisipasi sisa.
"Untungnya, ya, jadi berkurang, bingung yang penting laku. Biasanya kalau sak bungkus (untung) Rp 500 jadi Rp 400," ujarnya.
Pedagang nasi keliling di kompleks Kepatihan, DPRD DIY, Dinas Pariwisata DIY, hingga Bank BPD itu tetap menjaga kualitas nasi yang dijual. Meski naik, beras yang digunakan jenis beras medium seharga Rp 14 hingga Rp 15 ribu per kilogram.
"Nek tak pakai beras (yang murah) nggak enak nanti rasane sepo. Jadi tetap menjaga kualitas, pakai harga Rp 14 ribu-Rp15 ribu," tambahnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad