JOGJA, RADAR JOGJA- Menumpuknya sampah di Depo Kotabaru mengganggu kenyamanan, baik bagi masyarakat yang melintas ataupun pedagang yang mengais rezeki di sekitarnya. Menumpuknya sampah mengundang lalat dan ulat.
Padahal, ada beberapa pedagang yang berdagang di sekitar depo, mulai dari pedagang angkringan hingga penjual bunga.
Salah satu yang mengeluhkan dampak adanya tumpukan sampah adalah Lestari, salah satu pedagang angkringan di dekat depo.
Apalagi, produk yang dia jual yakni produk makanan. Kondisi depo saat ini tentu akan mempengaruhi selera makan para pembelinya.
Sejak sampah menggunung, hanya konsumen langganannya saja yang mampir.
“Sini kan jual makanan, yang beli yang biasa makan di sini saja. Kalau (pembeli) dari luar kan merasa jijik soalnya banyak lalat,” tuturnya.
Lestari mengatakan kondisi ini sangat mempengarui omzet penjualannya. Bahkan penurunan mencapai 50 persen.
Dia berharap, tumpukan sampah bisa dibersihkan dan diangkut secara tuntas.
Baca Juga: Jogja Berpotensi Terpapar Gelombang Panas
“Karena bisa mengganggu kesehatan, kita juga mencari rezekinya di sini. Kita merasa terganggu dan dampaknya penghasilan kita juga menurun,” ujarnya.
Sementara itu, Wahyu, 27 seorang penjual bunga juga mengaku sampah tak diambil sejak tiga bulan terakhir.
Kondisinya semakin parah sejak satu bulan ini lantaran sampah terus menumpuk. Bahkan ketinggiannya mencapai lebih dari dua meter dan berjejer sejauh kurang lebih 60 meter.
Jika ditotal, kapasitasnya mencapai 60 ton.
Wahyu mengeluhkan munculnya lalat dan ulat dari tumpukan sampah itu. Bahkan ulat juga merambat sampai ke tempat dagangannya yang lokasinya persis di samping depo.
"Sekitar dua bulan ulat lalat luar biasa. Penuh sampai ujung," katanya saat ditemui, Senin (9/10/2023).
Munculnya ulat dan lalat juga mengganggu para konsumen Wahyu. Dia mengaku kerap mendengar konsumen yang mengeluhkan banyaknya lalat yang beterbangan.
Belum lagi lindi yang keluar dari tumpukan sampah itu menimbulkan bau yang tidak sedap. Sehingga sedikit banyak memengaruhi omzet penjualan yang dia dapatkan.
“Kita sapui (ulat), kita buang ke sana karena orang beli kan juga takut. Kalau keluhannya kaya gitu karena sudah mulai ngair (berair), jadi baunya luar biasa,” katanya. (isa)
Editor : Bahana.