JOGJA - Sumbu Filosofi Jogja resmi menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO. Ada makna universal yang penting di dalamnya.
Tidak seperti warisan budaya yang berbentuk bangunan dan mudah dilihat, Sumbu Filosofi merupakan konsep tata ruang yang memiliki makna filosofi tinggi bagi masyarakat dunia.
Baca Juga: Siapkan Program Besar di Sumbu Filosofi Adalah Jogja Planning Gallery dan Teras Malioboro 2
Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, akan ada program besar yang dirancang di Sumbu Filosofi Jogja. Rencana program ini sudah dilaporkan jauh sebelum penetapan.
"Sebenarnya kalau pengembangan tidak kemudian berubah, enggak. Cuma ada program besar yang memang sudah kita rancang," katanya kepada Radar Jogja di Kompleks Kepatihan Senin (3/10).
Baca Juga: Modal Utama Sejahterakan Masyarakat , Konsep Pariwisata Berkelanjutan Diterapkan di Sumbu Filosofi
Terkait hal itu, ada tujuh rekomendasi UNESCO terkait penetapan Sumbu Filosofi Jogja sebagai warisan budaya dunia yang perlu ditindaklanjuti Disbud DIY.
Pertama, menguraikan secara lebih terperinci penerapan pendekatan historic urban landscape dalam mengelola tekanan pembangunan perkotaan di Jogjakarta.
Baca Juga: Branding Jogja Sebagai Kota Wisata Makin Kuat Usai Penetapan Sumbu Filosofi Sebagai Warisan Dunia
Kedua, menyempurnakan indikator-indikator pemantauan agar memadai untuk mengukur langsung kondisi konservasi atribut dengan nilai-nilai universal yang luar biasa (outstanding universal values).
Ketiga, mempertahankan moratorium pembangunan hotel dan memastikan pelaksanaannya di zona penyangga. Itu sembari menyelesaikan kajian daya dukung dan membuat peraturan khusus yang secara permanen akan mencegah pembangunan gedung-gedung tinggi.
Baca Juga: Sumbu Filosofi Jogja Jadi Warisan Budaya Dunia, Pakar : Jogja Sudah Milik Dunia
Keempat, melanjutkan penerapan proses relokasi sukarela pemukiman informal di dalam kawasan dengan memastikan bahwa hak dan kebutuhan masyarakat tetap terlindungi.
Kelima, mempertimbangkan kemungkinan untuk memperluas batas dan zona penyangga di beberapa bagian kawasan di masa mendatang dengan mengajukan permintaan sedikit perubahan batas agar pengelolaan tekanan pembangunan perkotaan lebih efektif.
Keenam, melanjutkan pengembangan rencana manajemen risiko bencana untuk kawasan, termasuk pelatihan pengurangan risiko dan tanggap bencana.
Dan ketujuh, menerapkan pedoman penilaian dampak warisan budaya yang baru saja diselesaikan. Selain itu, memastikan bahwa semua pembangunan perkotaan yang besar, pariwisata, dan proyek infrastruktur yang dapat berdampak pada kawasan dikomunikasikan kepada
Pusat Warisan Dunia sesuai dengan paragraf 172 Pedoman Operasional Pelaksanaan Konvensi Warisan Dunia.
Baca Juga: Pengembalian Fasad Beteng Keraton Konsekunesi dari Penetapan Sumbu Filosofi Jogjakarta
"Kami akan melaksanakan rekomendasi yang ada sebagai salah satu konsekuensi (ditetapkannya Sumbu Filosofi Jogjakarta sebagai warisan budaya dunia). Misalnya, catatan (rekomendasi) yang sudah pasti disampaikan kepada kami, Beteng (Keraton) harus kembali," kata Gubernur DIY Hamengku Buwono X. (wia)
Editor : Amin Surachmad