Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Aksi Solidaritas Kenang Tragedi Kanjuruhan

Rizky Wahyu Arya Hutama • Senin, 2 Oktober 2023 | 20:00 WIB
Photo
Photo


RADAR JOGJA - Jaringan Solidaritas Tragedi Kanjuruhan Jogjakarta menggelar aksi solidaritas 1 Oktober sebagai Hari Duka Sepak Bola, di area Tugu Jogja, Minggu (1/10). Lewat aksi ini, mereka mendesak tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang itu diusut tuntas.


Koordinator lapangan Aksi Jaringan Solidaritas Tragedi Kanjuruhan Jogjakarta Muhammad Fakhrurrozi mengatakan, 1 Oktober ini adalah hari yang tidak boleh dilupakan. Sebab ada 135 orang, termasuk perempuan dan 38 orang anak, yang direnggut masa depannya hanya karena menyaksikan pertandingan sepak bola."Kematian itu akibat brutalitas aparat keamanan dan tidak becusnya panitia penyelenggara pertandingan," ujarnya.


Aksi ini sudah berlangsung sejak hari Kamis (28/9) lalu. Ada berbagai macam kegiatan yang sudah dilakukan. Seperti ada sayembara tangkap angin di media sosial, karena menurut mereka itu adalah seruan untuk Polri yang sering mengatakan salah angin.


Jaringan Solidaritas Tragedi Kanjuruhan Jogjakarta juga mengadakan aksi simbolik gantung sepatu, nobar film tragedi Kanjuruhan, refleksi keluarga korban kanjuruhan, doa bersama, dan pernyataan sikap politik. Ada enam tuntutan yang di suarakan. Yakni mendesak ditetapkan tragedi Kanjuruhan sebagai pelanggaran HAM berat.

Hentikan renovasi atau perombakan Stadion Kanjuruhan. Hentikan penggunaan gas air mata dalam pertandingan sepak bola, penanganan kerumunan, dalam aksi demonstrasi dan penanganan apapun, Bebaskan delapan tahanan Arek Malang tanpa syarat. Usut tuntas kasus dan keterlibatan aktor lain dalam tragedi Kanjuruhan, dan tetapkan 1 Oktober sebagai Hari Duka Sepak Bola Nasional.

Bagi Fakhrurrozi tragedi Kanjuruhan adalah salah satu tragedi terbesar dalam dunia olahraga. Hingga hari ini, keluarga korban tragedi Kanjuruhan tidak pernah mendapatkan proses pengusutan dan keadilan yang konkrit. Negara dan kepolisian telah abai dan sepenuhnya menolak bertanggung jawab atas tragedi Kanjuruhan.


Nuri Hidayat salah satu keluarga korban asal Malang yang hadir dalam aksi tersebut juga mengutarakan dalam tragedi Kanjuruhan itu hingga saat ini para keluarga korban masih merasa kehilangan. Apalagi dengan berbagai hal yang sudah mereka alami. Seperti adanya intimidasi secara verbal terhadap keluarga korban."Kami merasa sakit sekali. Bahkan kami jauhlah dari kata keadilan itu," tegasnya.


Nuri mengungkapkan sudah berbagai upaya yang sudah dilakukan oleh keluarga korban. Bahkan mereka sudah melakukan mediasi dengan Pemkab Malang belum menuai hasil. Tidak hanya sampai di situ, perjuangan keluarga korban tragedi Kanjuruhan dalam mendapatkan keadilan justru malah mendapatkan intimidasi, dicelakai hingga ancaman pembunuhan. Nuri berharap agar tragedi Kanjuruhan ini diusut tuntas.


Alih-alih melindungi dan memberikan keadilan bagi korban, memang banyak keluarga korban yang mendapat tali asih dari negara. “Tapi menurut kami itu adalah sebuah takziah. Jadi kalau ada kata-kata tali asih itu sebagai ganti nyawa dari anakku pasti kami tidak terima," tandasnya. (ayu/din)

 

Editor : Satria Pradika
#Tragedi Kanjuruhan #tugu jogja