Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Saka Kadohan Diwaca Apik, Batik Ceplok Segoro Amarto Khas Kota Jogja yang Pernah Diplagiasi Secara Ilegal

Annissa Alfi Karin • Senin, 2 Oktober 2023 | 00:52 WIB

 

APIK: Rustinawati jadi salah satu distributor resmi Batik Ceplok Segoro Amarto dari Dekranasda Kota Jogja. (Alfi Annissa Karin/Radar Jogja)
APIK: Rustinawati jadi salah satu distributor resmi Batik Ceplok Segoro Amarto dari Dekranasda Kota Jogja. (Alfi Annissa Karin/Radar Jogja)

 

JOGJA - Kota Jogja kondang akan julukan Kota Budaya dan Kota Batik. Untuk itu, tak heran jika Kota Jogja punya motif batik khas yang menjadi kebanggan.

Motif batik itu diberi nama Ceplok Segoro Amarto. Diresmikan oleh Mantan Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti pada 2017 lalu bertepatan dengan HUT ke-261 Kota Jogja.

Hak cipta motif batik ini kini berada di tangan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Jogja. Tak sembarang orang bisa memproduksi kain batik Ceplok Segoro Amarto.

Ini untuk menjaga orisinalitas batik dan menjaga eksistensi para perajin batik. Tercatat hanya ada 10 produsen resmi batik ini di bawah binaan Dekranasda Kota Jogja. Salah satunya adalah Rustinawati, warga Muja-Muju, Umbulharjo, Kota Jogja.

Istri mantan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemkot Jogja, Sisruwadi ini menjelaskan batik Ceplok Segoro Amarto menempuh proses panjang hingga akhirnya diresmikan menjadi batik khas milik Kota Jogja.

Diawali dari sayembara kreasi motif batik yang digelar pada 2015. Lalu, para perajin batik di wilayah Kota Jogja berlomba untuk membubuhkan desain motif batik itu ke atas kain.

Dari 10 batik, dipilihlah batik kreasi Rustinawati. Dibanding karya lainnya, warna batik milik Rustinawati terkesan lebih gelap dan tegas.

Sebelumnya, batik Ceplok Segoro Amarto miliknya juga sempat dikonsultasikan ke Balai Besar Kerajinan dan Batik.

"Kemudian batik saya dipakai suami saya di Balai Kota. Lalu, semua orang bilang, 'Nah batik iku kaya nggone Pak Sis kuwi, apik, saka kadohan diwaca apik'. Lalu, saya dipanggil Dekranasda," ujarnya saat ditemui di tempat tinggalnya di Jalan Prof Dr Soepomo Nomor 19A Muja Muju, Umbulharjo, Kota Jogja, Minggu (1/10).

Pemilik Batik Toegoe Jogja ini bersama 9 anggota Dekranasda Kota Jogja lainnya akhirnya diberi mandat untuk membuatkan kain batik Ceplok Segoro Amarto bagi ASN di lingkup Pemkot Jogja.

Para ASN bebas mengirimkan orderan melalui 10 perajin batik itu. Meski sudah dibagi ke perajin batik lainnya, Rustinawati mengaku sempat keteteran.

Hal ini karena usai batik Ceplok Segoro Amarto ini diluncurkan, jumlah orderan bahkan mencapai ribuan lembar kain. Untuk menyelesaikan pesanan, Rustinawati dibantu oleh perajin batik lainnya dari Bantul.

"Kita tahu jadi. Satu potong kita kasih segini, istilahnya ndandakke. Dan mereka saya beri tahu 'nek wis ndandakke nggonaku aja dinggo sing liyane' kualitasnya sendiri-sendiri soalnya," jelasnya.

Soal harga, ibu tiga anak ini menyebut satu lembar kain batik Ceplok Segoro Amarto berukuran dua meter dibanderol dengan harga Rp 200 ribu.

Batik Ceplok Segoro Amarto dibuat dengan metode cap dan tulis. Di dalamnya termuat beberapa motif yang dijadikan satu.

Di antaranya motif parang, ceplok, gunungan, dan garuda. Awalnya kain batik dicap terlebih dahulu menggunakan alat cap.

Selanjutnya, kain direndam dengan pewarna biru. Lalu, beberapa detail kembali ditebalkan menggunakan malam dengan cara dicanting. Lalu, kembali diberi warna cokelat.

"Detail motif yang dicanting ini nantinya akan menjadi warna putih," imbuhnya.

Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Jogja Tri Karyadi Riyanto menjelaskan di awal peluncurannya, batik Ceplok Segoro Amarto sempat digandakan secara ilegal.

Dilakukan oleh orang di luar keanggotaan Dekranasda Kota Jogja. Produk-produk ilegal itu diproduksi secara massal dengan cara printing. Dibanderol dengan harga yang jauh lebih murah dengan harga produk asli.

"Itu kejadian sudah lama dan sempat dikasih somasi juga. Dan sudah clear kok," katanya melalui pesan singkat.

Sementara itu, Tri menyebut sejatinya batik khas Kota Jogja adalah batik Sogan. Didominasi warna cokelat kehitaman dan putih.

Sementara batik Ceplok Segoro Amarto merupakan pengembangan dari batik Sogan.

"Di situ ada motif ceploknya dengan warna sogan," imbuhnya.

Batik Ceplok Segoro Amarto punya filosofi sebagai upaya menjunjung tinggi derajat dan kewibawaan dengan menjaga keharmonisan hidup.

Di dalamnya ada juga motif parang yang berarti tinggi derajatnya. Sementara, motif kawung bermakna kehidupan yang harmonis dan menjaga keseimbangan alam.

Tak berhenti sampai di sini, pihaknya melalui Dekranasda akan terus mengembangkan batik khas Kota Jogja.

"Memang ke depannya ada pengembangan atau penambahan lagi. Di mana akan kita ambilkan dari salah satu finalis lomba design batik khas Jogja tahun 2017 yang di selenggarakan Dekranasda Kota Jogja. Kami masih banyak stok design batik khas Jogja," tuturnya. (isa)

Editor : Amin Surachmad
#motif batik #segoro amarto #Kota Jogja #Haryadi Suyuti