Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Matahari Lebih Terik, BMKG Ingatkan Bahaya Dehidrasi

Iwan Nurwanto • Jumat, 29 September 2023 | 15:10 WIB

TERIK :Pengguna jalan melintas saat siang hari di perlintasan kereta api kawasan Lempuyangan, Kota Jogja, Kamis (28/9/23).Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
TERIK :Pengguna jalan melintas saat siang hari di perlintasan kereta api kawasan Lempuyangan, Kota Jogja, Kamis (28/9/23).Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja
 

 


RADAR JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada peningkatan suhu selama beberapa hari terakhir. Masyarakat diimbau waspada ancaman dehidrasi atau hilangnya cairan dalam tubuh akibat suhu panas ini.


Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas mengatakan, dari hasil pantauan pada 23 dan 24 September suhu di DIJ mencapai 31 derajat celcius. Kemudian di hari berikutnya atau sejak 25 September naik menjadi 32 derajat celcius.


Reni menyebut, bertambahnya satu derajat suhu di DIJ memang membuat udara terasa lebih panas dan gerah. Kondisi itu bisa terjadi karena pada musim kemarau kehadiran awan hujan relatif sedikit."Sehingga sinar matahari yang menyinari bumi terasa sangat terik, karena sama sekali tidak terhalang awan-awan hujan," ujar Reni, Kamis (28/9/23).


Dengan kondisi itu, dia meminta, agar masyarakat mewaspadai berbagai potensi penyakit. Karena dengan semakin panasnya suhu bumi maka dapat membuat tubuh kekurangan cairan atau dehidrasi. Selain itu, udara yang kering juga dapat membuat banyak debu berterbangan di atmosfer bumi. Sehingga ancaman penyakit pernafasan pun meningkat."Kami menghimbau agar masyarakat rutin mengonsumsi vitamin dan banyak minum air putih," beber Reni.


Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Sleman Esti Kurniasih menyampaikan, penyakit pernafasan memang kerap dikeluhkan pada puncak musim kemarau. Hal itu karena kondisi udara yang kering dan membuat debu banyak berterbangan lalu masuk ke sistem pernafasan.


Selain itu, sudah banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan masker juga berdampak pada masifnya penyebaran jenis penyakit tersebut. Sebab, dengan tidak terlindunginya sistem pernafasan seperti hidung dan mulut, membuat virus penyakit semakin mudah ditularkan antarmanusia."Yang paling banyak dikeluhkan batuk dan pilek karena banyak debu,’’ terang Esti. (inu/din)

Editor : Satria Pradika
#kemarau #Bahaya Dehidrasi #Jogjakarta #BMKG