RADAR JOGJA – Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) berusaha melestarikan dan menghidupkan lagi olahraga tradisional gobak sodor. Ini sebagai tindak lanjut ditetapkannya sebagai gobak sodor sebagai Warisan Budaya Tak benda (WBTb) Indonesia dari DIJ berdasarkan surat keputusan Kemdikbud Ristek RI 9 Juni 2022 lalu.
Menindaklanjuti itu, Dinas Kebudayaan DIJ menggelar lomba gobak sodor di GOR Amongrogo, kemarin (25/9). Sebanyak 37 tim perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) berpartisipasi dalam lomba ini. Kepala Dinas Kebudayaan DIJ Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan, lomba ini baru pertama kali digelar.”Ini salah satu aksi yang kami lakukan dengan melakukan sosialisasi permainan tradisional gobak sodor ini," katanya di sela lomba.
Dian menjelaskan, esensi permainan gobak sodor adalah membangun semangat kerja sama, kerukunan, keguyuban, dan tentu menyehatkan secara jiwa dan raga. Oleh sebab itu, dalam perlombaan ini bukan tentang kalah dan menang. Melainkan untuk mengembalikan kenangan masa lalu khususnya generasi baby boomer atau generasi X yang kemudian ditularkan ke generasi Y khususnya para Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemprov DIJ. "Proses-proses ini kami sebut meracuni virus gobak sodor, itu coba kami masukkan ke semua OPD dan ternyata luar biasa sambutannya," ujarnya.
Pelaksanaan lomba gobak sodor dengan sasaran para ASN ini sebagai awal untuk selanjutnya ke tingkat kabupaten/kota hingga kalurahan. Diakuinya, keberadaan permainan ini di DIJ sejatinya belum punah dan masih ada yang memainkannya.
Asisten Sekda Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Masyarakat Setda DIJ Aris Eko Nugroho menambahkan, WBTb salah satunya gobak sodor ini tidak saja pada manifestasi budaya itu sendiri, tetapi menjadi kekayaan pengetahuan dan keterampilan yang diteruskan lintas generasi. Sehingga menjadi tugas bersama untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkan kekayaan dan kekhasan DIJ. Sebab, untuk pelestariannya memerlukan cara yang banyak. "Dengan pendekatan ini masyarakat luas dapat lebih aktif terlibat dalam pengelolaan warisan budaya," katanya.(wia/din)
Editor : Satria Pradika