Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tiktok Shop Juga Hajar Pasar Beringharjo, Pedagang Keluhkan Sepi Pembeli

Winda Atika Ira Puspita • Senin, 25 September 2023 | 21:42 WIB
PILIHAN: Situasi kondisi Pasar Beringharjo Barat paska dihajar online shop. (Winda Atika Ira P/Radar Jogja)
PILIHAN: Situasi kondisi Pasar Beringharjo Barat paska dihajar online shop. (Winda Atika Ira P/Radar Jogja)

 

JOGJA - Polemik Tiktok Shop yang disebut-sebut membuat pasar dan UMKM sepi di pusat grosir Tanah Abang juga berimbas ke wilayah Jogjakarta. Sejumlah pedagang pasar Beringharjo mengeluhkan sepinya pembeli dalam beberapa bulan terakhir. Mereka menuding, keberadaan e-commerce menjadi faktor penyebab.

Pantauan Radar Jogja di Pasar Beringharjo Senin siang (25/9), kondisi pasar Beringharjo masih tergolong cukup dikunjungi pembeli bahkan turis asing. Tak benar-benar sepi seperti di pasar Tanah Abang Jakarta, dimana banyak toko-toko tutup. Namun, sebagian besar pengunjung terlihat mereka melarisi belanjaan di lapak pedagang yang berada di dekat pintu masuk utama.

Sementara di sisi utara dan selatan pasar tertua di Kota Jogja itu, tergolong sepi atau tampak hanya ada segelintir pengunjung yang tengah berbelanja. Di beberapa titik dan sudut pasar bahkan ada yang tak disambangi oleh pembeli.

Salah satu penjual batik di Pasar Beringharjo Nur Khusnul Khotimah mengatakan, selama beberapa bulan terakhir ini mengalami penurunan omzet. Ini diduga karena kemunculan e-commerce yang marak menjual lewat live seperti Tiktok Shop, Shopee maupun Tokopedia. Terlebih, dengan harga miring produk-produk dari luar negeri.

"Ya ngaruh (live Tiktok Shop, Shopee) jadi sepi karena online shop. Biasanya ramai menurun dari ada online-online itu. Dari Tiktok, Tokped, Shopee. Sejak Juli kesini sudah mulai sepi," katanya di Pasar Beringharjo.

Menurutnya, kondisi pasar sebelum bulan Juli sempat masih ramai. Juli hingga sekarang keadaannya sepi pembeli. Jumlah pembelinya menurun karena pasar pun kunjungannya juga lengang akibat marak penjualan online dengan harga miring.

"Semenjak ada online shopee, biasanya ramai banyak orang trus mau jualan susah. Sekarang lengang mau sepak bola bisa," ujarnya.

Dia menyebut, penurunan omzetnya mencapai 50 persen. Pun mau beralih ke penjualan online seperti live Tiktok Shop, dia tak miliki banyak waktu sebab seharian harus menjaga lapaknya.

Kendati begitu, dia sudah berupaya disamping menjajakkan dagangan secara offline juga menjual secara online via akun Shopee. "Nggak ada waktunya karena kadang kalau sini ramai waktunya nggak ada. Tapi Shopee ada, sebenarnya harus ada batasan jualan online itu," tambahnya.

Sementara pegawai toko tas Pasar Beringharjo Yuliani mengatakan hal senada. Namun, tak mengetahui pasti faktor penyebab penurunan pembeli di lapaknya. Baik, karena faktor keadaan atau faktor lain. Namun memastikan bahwa jumlah pembeli berkurang.


"Berkurang dalam arti pembelinya nggak seramai awal-awal," katanya.

Penurunan tersebut sejatinya terjadi paska pandemi Covid-19, pun setelah status pandemi dicabut pemerintah. Sebab, kondisi kunjungan ke lapaknya dinilai tak bisa menyamai saat masih normal sebelum pandemi.

"Setelah korona kan turun, saat korona itu juga pernah tutup berapa bulan pasar. Dari situ pembeli mulai jarang," tandasnya.

Dia juga tak menampik, bahwa konsumen tak sedikit yang beralih belanja online. Hal ini diklaim lebih praktis dan penawaran harga lebih murah. Sebab, tak jarang pembeli yang ke lapaknya pun juga membandingkan dengan harga di online shop yang lebih terjangkau.


"Soal e pembeli sering membandingkan di online segini, kalau dipasar kadang orang lebih malasnya tawar menawar. Mungkin kalau di Tiktok tinggal beli jret," imbuhnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#tanah abang #UMKM #TikTok