RADAR JOGJA - Dosen Teknik Geologi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM) Agung Harijoko mengatakan, geopark merupakan suatu kawasan yang memiliki warisan geologi bernilai tinggi. Termasuk keanekaragaman hayati dan keragaman budaya yang bisa dikembangkan.
"Di sana ada kegiatan kultural, biodiversity juga ada. Dan kemudian dikembangkan menjadi nilai ekonomi, tapi harus ada konservasi. Bukan ekonomi mengektrasi, tapi kegiatan konservasi seperti kegiatan tourism," jelasnya kepada Radar Jogja (17/9).
Dikatakan, kawasan geopark dengan kondisi geologi dan kebudayaan yang kaya bisa dikembangkan menjadi konservasi. Kemudian ditawarkan menjadi objek wisata minat khusus. "Kalau perekonomian kaitannya dengan konservasi ya tourism. Dan jika dilakukan dengan baik maka tourism sangat tinggi," ujarnya.
Dalam pengembangan kawasan geopark memang ada pekerjaan rumah yang sangat besar. Kaitannya antara ekploitasi dan konservasi. Penambangan di kawasan geopark seringkali masih terjadi.
"Dengan geopark harapannya ada konservasinya dan pengganti keekonomian barang yang tidak boleh ditambang itu adalah wisata. Tetapi bagaimana penataan wisata juga menarik, sehingga banyak pengunjung," jelasnya.
Maka harus diciptakan wisata yang menarik. Sejauh ini wisata di Jogjakarta hanya berkutat pada foto-foto saja, namun nilai edukasi masih minim. Kondisi ini juga kemudian menjadi tantangan pengembangan kawasan geopark.
Agung mencontohkan kawasan Gunung Rinjani yang selalu ramai dikunjungi. Banyak paket menarik yang dikembangkan di geopark tersebut, sehingga tidak jenuh. Maka mau tidak mau harus menggandeng wisata dan membuat paket wisata.
"Apa sih yang menarik kemudian orang datang ke Gunung Sewu. Melihat kars saja orang tidak tertarik, tetapi itu sangat penting untuk konservasinya. Jutaan orang ke Gunungkidul setiap tahun, bagaiamana yang ke pantai ini bisa mampir ke geopark," tambah Agung. (lan/laz)
Editor : Satria Pradika