RADAR JOGJA - Sejumlah aturan baru diterapkan dalam rangka menyambut Hajad Dalem Sekaten Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Di antaranya, klir area dari warga untuk kawasan Keraton Jogja hingga no flight zone untuk drone. Selain untuk menjaga kesakralan, juga kenyamanan penyelenggaran upacara adat ini.
Pengelola Data dan Informasi Kawedanan Tepas Tanda Yekti Kraton Ngayogyakarta KMT Tirtawijaya menuturkan until klir area berlaku saat prosesi Garebeg Gunungan Mulud.
Tepatnya, mulai dari kawasan Kamandungan Kidul, Magangan, hingga Keben. Ini karena ketiga wilayah ini masih masuk dalam area Kedaton Karaton.
“Kamandungan Kidul terus di Magangan sampai di area Keben itu klir area dari penonton jadi karena itu posisinya masih di dalam Kedaton. Proses ini sakral, ini akan dijaga mulai di event ini," jelasnya ditemui di Kompleks Kepatihan Pemprov DIY Jumat (22/9).
"Jadi, untuk pengunjung penonton yang akan menyaksikan prosesi jalannya Garebeg Mulud bisa di titik Pagelaran di Masjid Gedhe, di jalan sepanjang Malioboro maupun di sepanjang jalan Rotowijayan,” jelasnya lagi.
Sementara untuk no flight zone berlangsung mulai Kamis (21/9) hingga prosesi sekaten berakhir Kamis (28/9).
Larangan ini dikuatkan dengan diterbitkannya NOTAM oleh Airnav Jogjakarta. Berlaku di kawasan yang menjadi lokasi penyelenggaran sekaten.
Larangan ini juga terkait adanya pengawalan oleh 2 ekor gajah. KMT Tirtawijaya menuturkan suara bising baling-baling drone membuat gajah panik.
Sehingga dikhawatirkan akan mengamuk saat prosesi pengawalan gunungan Garebeg Mulud.
“Ternyata gajah itu kalau mendengar suara drone seperti kumbang, itu akan bikin gajah itu tidak nyaman. Makanya pelarangan itu yang saya dapatkan dari pawang gajahnya. Karena sangat mengganggu, ditakutkan gajah akan mengamuk di lokasi tersebut,” katanya.
Larangan lain adalah membuka payung saat barisan bregada kuda melintas. Ini karena kuda takut dengan payung yang terkembang.
Larangan ini sejatinya telah berlangsung setiap penyelenggaraan Garebeg. Faktanya masih ada warga yang menggunakan payung saat menyaksikan prosesi garebeg.
“Kuda takutnya dengan payung, makanya pada wktu itu jangan sampai ada yang membuka payung. Memang dari sekuriti karaton bilang jangan buka payung karena kuda sangat takut dengan lingkaran payung karena merusak konsentrasi dan ditakutkan mengamuk,” ujarnya.
Prosesi Sekaten telah diawali dengan prosesi Miyos Gongso. Berupa keluarnya sepasang gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga pada Kamis malam (21/9). Tepatnya dari Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ke Pagongan Masjid Gedhe. (dwi)
Editor : Amin Surachmad