Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Branding Jogja Sebagai Kota Wisata Makin Kuat Usai Penetapan Sumbu Filosofi Sebagai Warisan Dunia

Winda Atika Ira Puspita • Jumat, 22 September 2023 | 00:48 WIB
PAL PUTIH: Pedagang berhenti di sekitar Tugu Jogja. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
PAL PUTIH: Pedagang berhenti di sekitar Tugu Jogja. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

JOGJA - Penetapan kawasan Sumbu Filosofi Jogja sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO dipastikan menjadikan branding Jogja sebagai kota destinasi wisata semakin kuat. 


Namun, dua faktor lain masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus dibenahi. Agar bisa mendongkrak okupansi dan kunjungan wisatawan ke DIJ. 


Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Eryono Pranowo mengatakan, penetapan yang dilakukan Senin lalu (18/9) membuat branding Jogja menjadi kota destinasi wisata akan semakin kuat.

Dua faktor lain juga perlu dibenahi untuk bisa mendongkrak okupansi maupun kunjungan wisatawan ke DIY. 


"Faktor-faktor lain sangat mendukung misalnya direct flight langsung dari luar negri ke YIA (Yogyakarta International Airport). Kedua masalah sampah harus kita selesaikan bersama," katanya Kamis (21/9). 


Deddy menjelaskan sebab dua faktor itu sejauh ini yang menonjol dan mengganjal untuk mendongkrak kunjungan wisatawan. Saat ini saja tingkat hunian hotel menurun sejak Agustus hingga September ini. 


Dia merinci okupansi hotel dari bulan Juni mencapai 75-80 persen, Juli 80 persen, dan Agustus berangsur turun rata-rata 50-60 persen. Memasuki bulan September sampai saat ini okupansi tinggal 50,8 persen. 

Baca Juga: Sumbu Filosofi Jadi Warisan Dunia, Anggota Dewan Dorong Pemprov DIY Rencanakan Program
"Kita berharap nantinya (okupansi) bisa meningkat bulan Oktober dengan adanya predikat itu, kita jangan terlena dengan predikat itu tapi kita berbenah diri. Masalah sampah juga mengganggu wisatawan yang jalan-jalan di Jogjakarta," ujarnya. 


Deddy menyebut keluhan langsung ada yang masuk dari wisatawan, terutama dari turis asing. Mereka kebanyakan menanyakan soal sampah. Sebab, ketika berkeliling kota menjumpai sampah berserakan di pinggir jalan yang membuat tidak nyaman ketika berjalan kaki. 


Terutama keluhan sampah ini berada di pusat-pusat kota seperti seputaran Prawirotaman, Jalan Parangtritis, Jalan Brigjend Katamso bahkan dipinggiran jalan wilayah Sleman. 

Baca Juga: Pengembalian Fasad Beteng Keraton Konsekunesi dari Penetapan Sumbu Filosofi Jogjakarta
"Hal itu tidak bisa membikin nyaman mereka karena wisatawan asing sukanya jalan kaki," jelasnya. 


Kendati begitu, PHRI masih optimis bisa mengejar okupansi tersebut dengan adanya penetapan tersebut. Setidaknya kembali bangkit untuk mempromosikan destinasi pariwisata di DIY. 


"Karena kita sudah mempunyai warisan dunia seperti Borobudur, Prambanan juga sudah diakui Unesco, ditambah sumbu filosofi menjadikan branding kita akan semakin kuat," terangnya. 


Selain itu, faktor lain juga perlu dibenahi yakni meningkatkan lagi volume jumlah penerbangan baik domestik maupun direct flight atau penerbangan langsung dari luar negeri.

Seperti turis dari Korea Utara menginginkan penerbangan langsung ke Jogja bukan ke Bali. Turis Australia pun juga berkeingan yang sama.

Baca Juga: Pastikan Sumbu Filosofi Jogja Jadi Daya Tarik Dunia, Naikkan Kunjungan Wisata dan Sejahterakan Warga
"Pemerintah DIY kami harapkan meminta ke pusat untuk direct flight langsung," tambahnya. 


Menurutnya, saat ini direct flight ke Bandara YIA dari luar negeri baru rute penerbangan internasional Singapura (SIN) dan Malaysia (KL). Tidak menutup kemungkinan Australia bisa ditawarkan dan sedang diusahakan. 


"Padahal bandara kita sudah memenuhi syarat semua. Saya kira dua faktor itu yang harus kita benahi bersama untuk mendukung predikat kita yang bertambah mendapat pengakuan dunia sumbu filosofinya," imbuhnya. 

Baca Juga: Milik Indonesia Juga Dunia, Penetapan Sumbu Filosofi Sebagai Pelestarian Warisan Budaya Jati Diri Jogjakarta
Meski direct flight luar negeri baru Malaysia dan Singapura, turis dari Eropa dan Australia berkunjung ke DIJ melalui Jakarta dan Bali, sebagian dari Malaysia yang wisata di Negeri Jiran itu kemudian datang ke Jogja.

Secara okupansi memang belum terlihat secara merata, namun kunjungan wisatawan asing disebut sudah ada progress. 


Sementara untuk wisatawan domestik kebanyakan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur yang mendominasi. 


"Kunjungan wisatawan asing sudah menggeliat tapi bicara okupansi secara merata belum tapi sudah ada progres. Prosentase sedikit, nggak sebanding sebelum pandemi tapi sudah mulai ada pergerakan. Kita masih bersyukur," ucapnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#Sumbu Filosofi Jogja #UNESCO #Jogja