Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengembalian Fasad Beteng Keraton Konsekunesi dari Penetapan Sumbu Filosofi Jogjakarta

Winda Atika Ira Puspita • Rabu, 20 September 2023 | 01:50 WIB
RESMI: Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X di Kompleks Kepatihan Senin (19/9). (Winda Atika Ira P/Radar Jogja)
RESMI: Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X di Kompleks Kepatihan Senin (19/9). (Winda Atika Ira P/Radar Jogja)

 

RADAR JOGJA - Penetapan kawasan Sumbu Filosofi Jogjakarta sebagai warisan dunia oleh UNESCO, membawa konsekuensi terhadap warga njeron beteng. Sebab, beteng Keraton Jogjakarta harus kembali ke bentuk awal.

Otomatis, bangunan atau rumah ngindung
warga di sekitar beteng harus dikosongkan untuk keperluan pengembalian ke fasad awal. Upaya ini sudah dilakukan di beberapa titik akan berlanjut hingga 2024 mendatang.

Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X mengatakan, akan melaksanakan rekomendasi yang ada sebagai salah satu konsekuensi dari penetapan kawasan Sumbu Filosofi Jogjakarta.

"Misalnya catatan yang sudah pasti disampaikan pada kami, misalnya beteng harus kembali. Kami sudah membangun kembali," katanya di Kompleks Kepatihan Selasa (19/9).

HB X menjelaskan, tahapan pembangunan fisik beteng sudah berjalan saat ini. Namun, akan bertahap untuk selesai proses pengosongan Jeron Beteng untuk penyelesaian kesepakatan dengan masyarakat bagian dalam beteng hingga 2024 mendatang.

"Ini salah satu catatan-catatan yang mungkin nanti secara resmi jadi rekomendasi dengan diterimanya sumbu filosofi jadi bagian dari dunia itu," ujarnya.

Bagaimana jika warga khawatir digusur? Raja Keraton itu menyebut, pada prinsipnya konsekuensi ini bukan untuk menggusur masyarakat atau memindah dengan seenaknya. Melainkan, untuk mensejahterakan masyarakat.

Terlebih, dengan bebungah yang diberikan dari Pemprov DIY. Sehingga masyarakat bisa memiliki tempat yang lebih nyaman dan legal.

"Tergusur itu asal beli tanahnya bukan maunya sendiri tapi mensejahterakan masyarakat bisa punya rumah lebih besar kan nggak ada masalah. Untuk tol juga ngak ada masalah. Yang penting, bagaimana masyarakat tidak makin miskin setelah dipindah tapi makin sejahtera setelah dipindah itu. Kan nggak mungkin pada nggak mau (dipindah)," jelasnya.

"Seperti tol kan juga begitu. Kalau memang harganya lebih bagus daripada yang diperkirakan, sama saja," sambungnya.

Ayah lima puteri itu menyebut penetapan ini akan ada tindak lanjut ke depan. Berupa rekomendasi-rekomendasi dari UNESCO, salah satu rekomendasi yang pasti adalah mengembalikan fasad bangunan beteng Keraton di mana berada di titik Sumbu Filosofi Jogjakarta. Maka, bangunan ini juga harus bertahan sesuai pada fasad awal.

Sultan berharap, semua pihak bisa menjaga keberlangsungan Sumbu FilosofiFilosofi Jogjakarta. Sebab, UNESCO akan terus melakukan evaluasi predikat Warisan Budaya Tak Benda tersebut secara berkala.

Bila DIY termasuk masyarakat tidak menjaga keberlangsungan Sumbu Filosofi Jogjakarta maka sewaktu-waktu predikat tersebut bisa dicabut. UNESCO pun terus mengontrol pembangunan kawasan Sumbu Filosofi.

"Tentu saja kami harus konsisten menerapkan rekomendasi-rekomendasi yang nanti jadi catatan dari UNESCO untuk memenuhi standar yang setiap periodik harus dilaporkan. Kalau nanti menyimpang bisa dicabut, kira-kira kan begitu," tambahnya.


Pemprov DIY belajar pengalaman dari negara India yang pertama ditetapkan UNESCO. Di mana Indonesia, khususnya Jogjakarta, harus tetap konsisten menjaga warisan dunia tersebut.

"Bagi saya dampak untuk masyarakat harus ada, mereka juga perlu didengar. Jadi jangan maunya sendiri," imbuhnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#Benteng Keraton #Pemprov DIY #HB X #sumbu filosofi Jogjakarta