Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dulunya Alas Mentaok Kotagede, Masjid Gedhe Mataram Dibangun Era Panembahan Senopati

Amin Surachmad • Senin, 18 September 2023 | 12:30 WIB

PERADABAN: Kompleks Masjid Gedhe Mataram. (Dok Istimewa)
PERADABAN: Kompleks Masjid Gedhe Mataram. (Dok Istimewa)


RADAR JOGJA - Pasar Lawas Mataram menghadirkan beragam nostalgia. Kegiatan yang dipusatkan di halaman Masjid Gedhe Mataram Kotagede ini menghadirkan beragam kuliner khas. Pasar "dadakan" yang digelar sejak Jumat (15/9) hingga Minggu (17/9) tersebut didatangi banyak masyarakat.

Di sisi lain, Masjid Gedhe Mataram Kotagede punya kisah panjang dalam peradaban masyarakat Jogjakarta. Terlebih, masjid ini merupakan masjid tertua di Jogjakarta. Masjid ini, sekaligus, menjadi saksi perkembangan Islam di Jogjakarta.

Dikutip dari Dinas Kebudayaan DIY, Masjid Gedhe Mataram dibangun selama sekitar sembilan tahun. Yakni, mulai tahun 1578 hingga 1587.

 

Baca Juga: Alas Mentaok Kotagede Cikal Bakal Jogja, Ini Penjelasan Pohon Mentaok dan ManfaatnyaMasjid Gedhe Mataram dibangun pada masa Panembahan Senopati. Pembangunan masjid melibatkan berbagai kalangan masyarakat. Termasuk, masyarakat yang waktu itu menganut agama Hindu dan Buddha.

Awal mula dibangunnya Masjid Gedhe Mataram adalah pindahnya Ki Ageng Pemanahan dan putranya yakni Danang Sutawijaya (Panembahan Senopati). Mereka pindah ke Alas Mentaok Kotagede.

Tanah Mentaok tersebut merupakan pemberian dari Kasultanan Pajang. Sebab, Ki Ageng Pemanahan pernah membantu Kasultanan Pajang.

Baca Juga: Sebelum Pindahkan Ibu Kota, Sempurnakan Masjid Sang Kakek

Akhirnya dibangun masjid di atas tanah tersebut. Hal tersebut tak terlepas dari saran gurunya yaitu Sunan Kalijaga.

Baca Juga: Dulu, Jagang Benteng Keraton Jogja Lebar dan Tak Bisa Dilompati Kuda Terbaik, Juga Ditanami Gayam

Ketika masjid dibangun, warga yang beragama Islam bertugas membangun bagian utama bangunan masjid. Sedangkan warga yang memeluk Hindu membangun bagian pagar.

Hal ini terlihat dari bentuk pintu masuk Masjid Gedhe Mataram. Bentuknya seperti pura.

Seiring waktu berlalu, Masjid Gedhe Mataram mulai berkembang. Salah satunya yakni membangun serambi dan halaman. Pembangunan dilaksanakan pada masa Sultan Agung tahun 1611 masehi.

Baca Juga: Benteng Keraton Jogja Didesain Pangeran Mangkubumi, Ada yang Hancur saat Geger Sepehi

Lokasi Masjid Gedhe Mataram pun satu kompleks dengan Pesarean Agung Kotagede. Tempat pemakaman ini dikelilingi pagar setinggi 2,5 meter.

Di mana, dalam struktur tata ruang pusat kerajaan Islam di Jawa, Masjid Gedhe Mataram merupakan bagian dari konsep catur gatra tunggal yang mencakup empat elemen pembentuk identitas kota.

Baca Juga: Meski Rada Gela, Warga Besar Hati Kembalikan Tanah ke Keraton Jogja Asal Ganti Untung Sesuai

Pertama, terdiri atas keraton sebagai pusat pemerintahan. Kedua, aun-alun sebagai pusat kegiatan sosial budaya. Ketiga, masjid sebagai pusat kegiatan spiritual. Keempat, pasar sebagai pusat kegiatan ekonomi.

Editor : Amin Surachmad
#Panembahan Senopati #Ki Ageng Pemanahan #masjid tertua #Masjid Gedhe Mataram Kotagede