RADAR JOGJA - Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja menggelar pawiyatan aksara dan sesorah serentak di 10 kampung, Selasa (5/9). Gelaran ini dilaksanakan sebagai rangkaian kegiatan Selasa Wage.
Kegiatan ini sekaligus memperingati momentum Amanat 5 September oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam VIII. Amanat itu menyatakan Keraton dan Kadipaten Pakualaman bergabung dengan NKRI.
Kepala Disbud Kota Jogja Yetti Martanti menyebut pawiyatan aksara dilaksanakan di lima kampung. Yakni, Mangkuyudan, Wirobrajan, Minggiran, Prawirodirjan, dan Purwodiningratan. Beberapa materi aksara yang disampaikan meliputi pengenalan aksara Jawa, bentuk sandhangan dan pasangan, serta prinsip dasar tata tulis aksara Jawa.
"Selain itu juga disampaikan tentang dinamika paugeran aksara Jawa dan kerangka filosofisnya, praktik penulisan aksara Jawa manual dan digital," katanya, Rabu (6/9).
Sementara itu, pawiyatan sesorah dilakukan di lima kampung lainnya. Di antaranya, Pengok, Giwabgan, Serabgan, Karangkajen, dan Bener. Beberapa materi yang diajarkan adalah tentang contoh-contoh narasi seperti nglamar, wangsulan nglamar, pasrag, panampi, dan lain-lain.
"Masing-masing akan melaksanakan pawiyatan sebanyak 3 kali pertemuan. Menyasar pada warga masyarakat di kampung Kota Jogja," tambahnya.
Kasi Bahasa dan Sastra Disbud Jogja Ismawati Retno Wigiarti menuturkan pihaknya turut menggandeng beberapa komunitas sastra. Di antaranya, Geber Jawa, Iqro Hanacaraka, dan Jawacana. Ada juga komunitas Sego Jabung dan Paguyuban Pranatacara Jogjakarta.
"Ini adalah upaya untuk memastikan, melestarikan atau nguri-uri supaya warisan budaya kita tetap hidup dan terus dilestarikan untuk generasi mendatang," katanya.
Isma menambahkan, agenda ini menjadi bagian dari rangkaian pelaksanaan Festival Sastra 2023.
"Digelarnya agenda ini diharapkan dapat memperkuat peran bahasa sastra dan aksara Jawa sebagai identitas lokal yang kuat dan berakar budaya masyarakat Kota Jogja," harapnya. (isa)
Editor : Amin Surachmad