Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Isi Piagam Kedudukan dari Presiden Soekarno kepada Sultan HB IX dan Paku Alam VIII

Amin Surachmad • Selasa, 5 September 2023 | 12:22 WIB

DEKAT: Presiden Soekarno bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX. (Dok DPAD DIY)
DEKAT: Presiden Soekarno bersama Sri Sultan Hamengku Buwono IX. (Dok DPAD DIY)

 RADAR JOGJA - Wilayah kerajaan Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman menyatakan bergabung dengan Republik Indonesia pada 5 September 1945. Hal itu tertuang dalam Amanat 5 September 1945.

Amanat itu dinyatakan oleh Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Adipati Pakualaman Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam VIII.

Presiden Soekarno pun memberikan penghargaan. Sehari berselang, tepatnya 6 September 1945, Pemerintah Republik Indonesia memberikan Piagam Kedudukan yang ditandatangani Presiden Soekarno pada 19 Agustus 1945.

Baca Juga: Amanat 5 September 1945, Bergabungnya Keraton Jogja dan Kabupaten Pakualaman Menjadi Bagian Republik Indonesia

Piagam tersebut ditujukan untuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan KGPAA Paku Alam VIII.

Berikut isi Piagam Kedudukan 19 Agustus 1945.

Baca Juga: Isi Lengkap Amanat 5 September 1945 yang Dinyatakan Sultan HB IX dan Paku Alam VIII

 

Piagam Kedudukan Sri Paduka Ingkeng Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono IX

Kami, Presiden Republik Indonesia, menetapkan:

Ingkeng Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwono, Senopati Ing Ngalogo, Abdurrahman Sayidin Panotogomo, Kalifatullah Ingkang Kaping IX Ing Ngayogyakarta Hadiningrat, pada kedudukannya,

Dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kangjeng Sultan akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga, untuk keselamatan Daerah Yogyakarta sebagai bagian daripada Republik Indonesia.

Jakarta, 19 Agustus 1945
Presiden Republik Indonesia

Ir. Sukarno

 


 

Piagam Kedudukan Sri Paduka Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII

Kami, Presiden Republik Indonesia, menetapkan:

Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VIII Ingkang Kaping VIII, pada kedudukannya,

Dengan kepercayaan bahwa Sri Paduka Kangjeng Gusti akan mencurahkan segala pikiran, tenaga, jiwa dan raga, untuk keselamatan Daerah Paku Alaman sebagai bagian daripada Republik Indonesia.

Jakarta, 19 Agustus 1945
Presiden Republik Indonesia

Ir. Sukarno

Editor : Amin Surachmad
#radar jogja #presiden soekarno #Paku Alam VIII #Sultan Hamengku Buwono IX #republik indonesia