Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Angkat Kisah Ratu Ageng karena Punya Nilai Sejarah Budaya bagi Masyarakat Jogja

Kusno S Utomo • Rabu, 30 Agustus 2023 | 12:20 WIB

SEJARAH TERPENDAM: Ndalem Tegalrejo pernah menjadi tempat tinggal Ratu Ageng, permaisuri Sultan HB I. Tidak banyak literasi mengangkat kisah hidupnya.
SEJARAH TERPENDAM: Ndalem Tegalrejo pernah menjadi tempat tinggal Ratu Ageng, permaisuri Sultan HB I. Tidak banyak literasi mengangkat kisah hidupnya.

RADAR JOGJA - Nama besar Ratu Ageng hanyut dalam ingatan sejarah. Bahkan tidak banyak literasi  mengangkat kisah hidupnya. Padahal Ratu Ageng punya kontribusi besar . Khususnya saat awal-awal pembangunan Keraton Ngayoyakarta. Ratu Ageng adalah permaisuri Sultan Hamengku Buwono (HB) I. Ratu Ageng atau Ratu Kadipaten asalnya dari daerah Sukawati, Sragen, Surakarta. Ibunda putra mahkota, Gusti Raden Mas (GRM) Sundoro. Kelak menjadi bertakhta sebagai HB II.

“Beberapa waktu lalu terdengar kabar karya Ratu Ageng berupa kitab sastra keagamaan berjudul hikayat Amir Hamzah dan Serat Ambiya,” ujar Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Jogja Krisnadi Setyawan dalam sebuah perbincangan Selasa (29/8).

 Diceritakan, pembukaan Serat menak Amir Hamzah ada tulisan yang menarik dicermati. Kutipannya sebagai berikut. “Prabu wanodya/kang jumeneng Ratu Agung/ kang ngedhaton Tegalreja”,” kutipnya.  Artinya kurang lebih, “Ratu wanita/bertahta sebagai Ratu Agung/ dan istananya di Tegalreja’.

Perkembangan zaman  melaju cepat. Wilayah Tegalrejo menjadi pemukiman padat. Semua kebesaran yang dibangun Ratu Ageng hanya tinggal menjadi toponim yang jarang dipahami masyarakat. Bahkan Tegalrejo lebih dikenal sebagai kediaman Pangeran Diponegoro putra dari HB III yang berarti cucu buyut Ratu Ageng.

 Dewasa ini Tegalrejo merupakan daerah pintu gerbang Kota Jogja. Terlebih dengan dibangunnya jalan tol Trans Jawa menghubungkan Semarang-Surakarta-Cilacap yang titik pertemuannya ada di Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman.

“Hampir sama dengan Mlangi, Gamping, Sleman, yang sempat terancam terbelah jalan tol jika tidak digeser menjadi trase melayang di atas ringroad,” beber Krisnadi. Diingatkan, Tegalrejo juga akan semakin tenggelam dengan hiruk pikuk kemacetan setiap hari di Jalan Godean. Perlu upaya yang serius  para pemangku kebijakan  menjaga kawasan Tegalrejo.

“Ingat Tegalrejo mempunyai nilai sejarah dan budaya tinggi bagi Keraton Ngayogyakarta dan masyarakat Jogja,” ungkap wakil rakyat berlatar belakang aktivis ini. Menyadari itu, Krisnadi tengah serius berupaya mengangkat kisah Ratu Ageng.  “Salah satunya dengan terus mendorong penetapan Tegalrejo dan aliran Kali Larangan sebagai Kawasan Cagar Budaya (KCB),” ungkapnya.

Selaras dengan upaya itu, Krisnadi mendesak Dinas Kebudayaan Kota Jogja mengangkat kisah dan sejarah Ratu Ageng. Berikut dengan istana Tegalrejo yang ditempati. Ratu Ageng bermukim di Ndalem Tegalrejo usai suaminya wafat pada 1792. Tak lama setelah itu pada 1793, Ratu Ageng hijrah keluar dari kedaton dan menetap di Tegalrejo. Ndalem Tegalrejo dikelilingi hamparan persawahan luas. 

Tegalrejo menjadi cikal bakal pemukiman Kota Jogja. Selain persawahan, terdapat  pesantren. Tujuan para santri mempersiapkan diri sebelum  masuk ke pusat keagamaan di Mlangi yang saat itu dipimpin Kiai Nur Iman, kakak dari HB I.

 “Tegalrejo menjadi jalur transportasi yang menghubungkan keraton dan kampung-kampung di sebelah timur dan selatan  menuju Mlangi,” cerita anggota Badan Anggaran DPRD Kota Jogja ini.

 Selain itu, sebuah peta wilayah Keraton Ngayogyakarta pada 1830 tergambar di sebelah timur Ndalem Tegalrejo, tepatnya di sisi timur Kali Winongo ada sudetan aliran sungai mengarah ke keraton. Ditengarai sudetan itu hulu dari Kali Larangan yang merupakan salah satu  konstruksi awal pembangunan keraton.

“Kali Larangan berfungsi sebagai sumber air di keraton baik keperluan sehari-hari maupun kebutuhan Masjid Gedhe Kauman dan pengairan kompleks Tamansari,” papar Krsinadi. Kali Larangan ini melintasi njeron beteng dan kembali bermuara di Kali Winongo di daerah Gedongkiwo sekarang ini.

Memaksimalkan pemanfaatan Kali Winongo, dibangun sejumlah bendungan. Dari bendungan itu dibuat aliran sungai. Masuk ke bawah tanah menuju kota sampai Tamansari dengan kedalaman mencapai 8 meter di bawah permukaan tanah. Aliran airnya melintas di bawah Kali Buntung.

Aliran sungai difungsikan sebagai penggelontoran limbah. Tempat-tempat pemandian,pertahanan militer dan irigasi yang dibutuhkan perkebunan/persawahan. Masa awal berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta, daerah Tegalrejo  menjadi batas atau penanda kota. (kus)

 

Editor : Satria Pradika
#hamengku buwono #Ratu Ageng Tegalrejo #Keraton