RADAR JOGJA – Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja tengah menjajaki kerja sama dengan daerah lain hingga investor swasta untuk mencari lahan pengelolaan sampah seperti Tempat Pengelolaan Sampah 3 R (TPS3R) Nitikan. Penjajakan ini bahkan telah dilakukan sejak dua tahun lalu, namun belum ada kecocokan.
Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo mengatakan, saat ini masih terus melakukan penjajakan untuk mencari lahan baru sebagai lokasi TPS3R. Bentuk kerja sama itu adalah pemkot bisa menyewa atau membeli lahan dari daerah lain kemudian dibangun tempat pengolahan sampah. Hal ini dianggap sangat memungkinkan. “Tapi kami belum menemukan partner yang cocok," ujarnya.
Penjajakan juga dilakukan bahkan hingga ke sektor swasta jika kemudian ada investor yang menyediakan lahan dan peralatan. Namun, tampaknya belum juga ada hasil juga. Upaya ini dilakukan, sebab pemkot memang kesulitan lahan dan hal ini yang menjadi persoalan."Kalau ada investor yang kemudian menyediakan lahan kemudian peralatan dan investasi mereka kemudian kami tinggal kirim sampah dengan membayar tonase tertentu misal 1 ton dengan nilai berapa itu sangat memungkinkan," jelasnya.
Oleh karena itu, sebagai upaya jangka pendek dan panjang pemkot dengan gerakan zero anorganik dan Mbah Dirjo atau Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori ala Jogja.
Singgih mengatakan sudah lebih 16.500 biopori yang dibuat masyarakat, ASN, di lokasi pasar, dinas perdagangan, hingga UPT Malioboro. "Mbah Dirjo ada 16.500 sekian itu bisa menurunkan 50 sampai 60 ton per hari, dari biopori. Kalau 210 (ton produksi sampah sebelumnya) kemudian kita kurangi 50 ton aja masih 160 ton. Sudah cukup signifikan sampah organik yang dikirim ke depo," bebernya.
Bahkan kiriman sampah Kota Jogja ke TPST Piyungan bisa di bawah kuota yang ditentukan Pemprov DIJ yaitu 100 ton per hari. "Menurun dari jatah 100 ton ton bisa 120 ton, bisa sampai 95 ton. Penurunan cukup signifikan," tambahnya. (wia/din)
Editor : Satria Pradika