Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo menyebut peralatan berdagang milik Roni sebelumnya terbilang minim. Sarana yang dipunyai juga belum mendukung aktivitas Roni saat berjualan keliling.
"Ini adalah bentuk perhatian kita khususnya untuk masyarakat disabilitas Kota Jogja yang memang memerlukan bantuan dan mereka punya semangat yang luar biasa untuk berkarya," kata Singgih saat ditemui di RT 32 RW 08 Kampung Pajeksan, Sosromenduran, Kota Jogja, Selasa (29/8/23).
Keterbatasan yang dimiliki Roni pada kakinya itu tak lantas menjadikannya hanya pasrah pada keadaan. Dengan gigih, Roni terus berusaha mengais rezeki untuk menghidupi istri dan anaknya. Terhitung sejak 2010, Roni mulai berdagang ikan hias. Dia berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain. Ini lantaran kebanyakan pembelinya merupakan anak sekolah."Dulu jualan hanya pakai kayu dirakit sendiri yang dicantolkan di motor. Keliling dari TK ABA Kauman, SD Kauman, Lempuyangan," kata Roni.
Dalam sehari, pendapatan yang dia terima tak menentu. Rata-rata, pendapatan kotornya sebesar Rp 100 ribu. Itupun harus dia pakai kembali untuk modal, sehingga dalam sehari dia hanya menerima Rp 40 ribu. Seramai-ramainya, Roni mampu mengumpulkan uang hingga Rp 150 ribu per hari.
"Akhirnya saya sambat dengan Basnaz, saya ingin jualan makanan. Lalu dari Basnaz mau membantu," tambahnya.
Dari berjualan ikan hias, Roni punya keinginan untuk banting setir jualan kuliner. Mulai dari ayam krispi, tahu krispi, corn dog, hingga pangsit goreng. Konsepnya sama, Roni akan berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain.
Bapak satu anak ini mengaku sangat antusias dan berterima kasih atas bantuan yang diberikan Basnaz kepadanya. Menurut Roni bantuan ini sangat berarti dalam meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Menurutnya, bisnis kuliner sepertinya lebih prospektif.(isa/din)