Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mencari Pelukan Ibu dengan Tunjukkan Prestasi Seni

Herpri Kartun • Selasa, 29 Agustus 2023 | 13:30 WIB

 

BERHARAP IBU DATANG: Suasana lomba mewarnai yang diikuti 1.001 siswa-siswi TK se-Kota Jogja di GOR Among Rogo, Jogja, kemarin (28/8).
BERHARAP IBU DATANG: Suasana lomba mewarnai yang diikuti 1.001 siswa-siswi TK se-Kota Jogja di GOR Among Rogo, Jogja, kemarin (28/8).

RADAR JOGJA - Senyum merekah dan gigi ompong nampak dari raut muka Attar yang sedang gembira. Bocah asal Kaliurang, lereng Merapi ini berhasil menyabet juara I lomba mewarnai tingkat TK yang diikuti 1.001 siswa dan siswi se-Kota Jogja. Bukan uang, hadiah terbesar baginya adalah pelukan dari sang ibu yang telah lama tidak didapatkan. 

Tak seperti anak-anak lain yang ditemani ibundanya, Ramadhan Attar, 5, tetap berusaha kuat mengikuti acara sekolah. Terpisah tempat tinggal dengan ibunya membuat Attar kerap murung. Namun pagi itu, murung seakan dimasukkan ke sakunya. Berangkat dari rumah nenek sang pengasuhnya di Keparakan Lor, Mergangsan, Attar menuju Gelanggang Olahraga (GOR) Among Rogo, Jogja.

Cuaca pagi hari di Jogja mulai panas. Ditambah padatnya lalu lintas perkotaan, membuat siapa pun enggan untuk membelah jalanan  perkotaan. Namun karena sebuah kewajiban, bocah kelahiran Sleman, 13 Juni 2018 ini telah siap melawan 1.000 peserta lomba. Walau masih sedikit nampak sayu-sayu kantuk di matanya, ditemani sang ayah ia menerobos hiruk pikuk lalu lintas Kota Gudeg menuju lokasi lomba kemarin (28/8).

Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) dan Hari Kemerdekaan ke-78 RI, TK PKK se-Kota Jogja menggelar lomba mewarnai. Suasana GOR yang terletak di dekat Stadion Mandala Krida, kawasan Semaki, Umbulharjo ini penuh dengan anak-anak. Suara jerit tawa anak seakan memenuhi gelanggang yang mampu menampung 5.000 orang ini. Suasananya riuh ramai, anak-anak, guru, dan orang tua memenuhi ruangan di gedung itu.

Berbeda dengan lomba mewarnai pada umumnya, kali ini mengharuskan orang tua turut berkolaborasi dengan  anak. Sayangnya, Attar tidak didampingi ibundanya. Ia sempat tolah-toleh melihat teman-temannya. Entah apa yang ada di benaknya. Barangkali, ia membayangkan sosok ibunya. Sudah sebulan lebih anak ini belum bertemu. Ini dikarenakan kesibukan ibunya yang superpadat. Bekerja di dunia perhotelan, menuntut sang ibu menghabiskan waktu lebih banyak di kantor ketimbang di rumah.

Menjelang pukul 08.00, panitia meminta agar antara anak dan orang tua berpelukan terlebih dahulu. Katanya, agar tercipta keterikatan yang lebih. Supaya saat berkolaborasi mewarnai ada keharmonisan. ”Pah, udah, malu”, kata Attar saat dipeluk ayahnya. Mungkin anak ini malu karena hanya segelintir anak saja yang dipeluk ayahnya. Sementara ratusan anak lain dipeluk ibundanya.

Begitu lomba dimulai, antara Attar dan ayahnya mulai sigap bekerja sama. Sang anak memulai mewarnai dari atas, sedang ayahnya dari bawah. Kemudian dipadupadankan, sehingga tercipta gradasi warna yang indah. Setelah sekian kali mencurahkan pastel, karya selesai. Cukup luwes antarkeduanya yang sama-sama hobi menggambar.

"Lombanya unik, baru kali ini mengikuti model begini. Kolaborasi kreasi orang tua dan anak," ujar Yanto, 38, sang ayah. ”Anak mewarnai, orangtuanya membantu. Terutama untuk mengisi bidang-bidang yang cukup rumit. Terkadang anak malah tak mau kalah. Pinginnya semua diwarnainya, haha… Dia sudah biasa mewarnai di rumah," tambahnya.

Dari seribu anak, diambil enam juara. Peringkat I, II, III, harapan I, harapan, II, dan harapan III. Kegembiraan Attar pecah saat para juri membacakan pengumuman. Ia meraih peringkat pertama. Hal yang pertama dilakukan meminta ayahnya untuk menelepon ibunya. Video calling, namun sayang ibunya tidak mengangkat. Berulang kali, hasilnya sama.

 "Selamat ya Mas Attar, juara I dari 1.001 peserta”, ucap Kiki Nur Cahyani, ibu gurunya. ”Semangat Mas Attar”, ucapan selamat dari Estri Martini, kepala sekolah TK Pamardi Putra, Jogja, tempat Attar bersekolah. Grup  sosial media sekolah ramai ucapan dari para orang tua dan wali murid.

Selesai penyerahan hadiah dan hendak pulang, ibunya tetap tidak ada respons. Nampak ada sedikit murung di wajah Attar. Berbeda dengan para pemenang lainnya yang bersuka cita ditemani keluarga. Berfoto bersama dengan guru dan pihak sekolah di depan backdrop yang cukup megah. Attar merasa kesepian, meminta segera pulang.

Hendak menyusuri lorong menuju pintu keluar GOR, sang ibu mengangkat telepon. Seperti kaget dan kurang percaya mendapat kabar anaknya juara. Yuli Anggorowati, 36, ibunya, berjanji akan menemuinya. Piala, uang, dan hadiah membuatnya gembira. Namun, ada hal yang lebih menggembirakan baginya. Sorenya, sang ibu datang menemuinya. Memberikan selamat. Pelukan ibunya menjadi hadiah utama bagi Attar. (laz)

 

Editor : Satria Pradika
#lomba mewarnai #Merapi #Juara I