Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Eksis 108 Tahun, Majalah Suara Muhammadiyah Diusulkan Jadi Warisan Budaya

Wulan Yanuarwati • Jumat, 25 Agustus 2023 | 01:30 WIB

MOMENTUM: Penyerahan surat usulan Majalah Suara Muhammadiyah jadi warisan budaya benda dan tak benda yang akan dikirim ke pemerintah pusat pada acara seminar memperingati Hari Pers Muhammadiyah
MOMENTUM: Penyerahan surat usulan Majalah Suara Muhammadiyah jadi warisan budaya benda dan tak benda yang akan dikirim ke pemerintah pusat pada acara seminar memperingati Hari Pers Muhammadiyah
 


 


RADAR JOGJA – Majalah Suara Muhammadiyah (SM) diusulkan menjadi warisan budaya benda dan warisan budaya tak benda. Majalah syiar Islam sejak zaman penjajahan Belanda ini masih eksis hingga saat ini. Yakni sudah berusia 108 tahun. 

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyambut baik usulan ini. Meski begitu, tetap harus menunggu hasil sidang pleno PP Muhammadiyah, untuk kemudian diajukan ke pemerintah pusat. "SM memegang perananan penting, membangun tradisi baru, selain sebagai media, juga sebagai literasi,” ujar Haedar pada seminar memperingati Hari Pers Muhammadiyah di SM Tower and Convention Jogja, Rabu (23/8/23).

Suara Muhammadiyah memang bukan media pertama yang lahir di Hindia Belanda (Indonesia saat ini, red). Sebelumnya sudah ada Medan Prijaji yang dipimpin oleh RM Tirtoadisuryo yang menjadi pelopor pers Nasional. Namun tidak berumur panjang, bertahan mulai Januari 1907 hingga Januari 1912.

Sementara Suara Muhammadiyah bertahan hingga saat ini. Bahkan pada 10 Oktober 2016 mendapatkan penghargaan dari MURI sebagai Majalah Islam yang Terbit Berkesinambungan Terlama. SM sukses bertahan di segala zaman, mulai dari penjajahan Belanda, Jepang hingga era reformasi. 

Gagasan terbitnya Suara Muhammadiyah berangkat dari keprihatinan atas minimnya siar Islam. Pada saat itu, pribumi muslim menganggap ide dan gagasan hidup modern identik dengan barat. Kiai Haji Ahmad Dahlan terlibat langsung dalam pengelolaan Suara Muhammadiyah generasi awal.

Haedar menyebut, latar belakang terbitnya Suara Muhammadiyah juga karena rendahnya literasi dan tradisi membaca di masyarakat Indonesia. Tradisi lisan lebih mendominasi jika dibandingkan dengan tradisi tulisan.

Ditambah, masyarakat lebih banyak penguasaan Bahasa Arab dan bahasa lokal. Sedangkan penguasaan aksara Latin didominasi elit yang mengenyam pendidikan di sekolah Belanda.

“Jadi layak bahwa SM selain sebagai tonggak gerakan pers. Namun juga membangun tradisi literasi. SM luar biasa perannya dalam mengenalkan Bahasa Indonesia,” ujarnya.

Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah Muchlas Arkanuddin mengatakan, SM sebagai media tertua akan diusulkan menjadi warisan budaya benda dan tak benda. Hal ini karena peran SM dinilai sangat luas. Selain itu 13 Agustus juga akan diusulkan peringatan Hari Pers Muhammadiyah. "Kami memiliki gagasan bahwa SM tidak hanya bermanfaat untuk sosialisasi perserikatan dan mengairahkqn pers di Indonesia tapi juga ada nilai budaya. Kami akan usulkan sebagai warisan budaya yang berbentuk benda dan tak benda," jelasnya. 

Edisi kedua Suara Muhammadiyah berhasil ditemukan di Perpustakaan Leiden University di Belanda. Edisi kedua tersebut ditemukan oleh Kuntowijoyo, memakai huruf Jawa dan ada keterangan diterbitkan sebulan sekali. Edisi ini dapat diusulkan menjadi warisan budaya benda.
"Agar SM menjadi warisan budaya benda, paling tidak SM edisi nomor kedua yang asli ada di Leiden, kita daftarkan heritage bentuk benda," ujarnya.

"SM juga bisa didaftarkan sebagai warisan tak benda, kandungan budayanya ada. Apalagi tahun sebelum kemerdekaan bisa lihat di museum Muhammadiyah bahkan ada 3 fatwa bagimana bersikap saat penjajahan Belanda. Spirit ini perlu kami usulkan," lanjutnya. (lan/din).

Editor : Satria Pradika
#Majalah Suara Muhammadiyah #Warisan Budaya Benda