JOGJA - Sebagai upaya memecah keramaian pengunjung Malioboro Jogja, kawasan Ketandan dipersiapkan menjadi pusat perekonomian baru atau China Town. Ini mengingat Ketandan banyak dihuni oleh masyarakat Tionghoa.
Sebagai tahap persiapan mewujudkan China Town itu, pembebasan lahan telah rampung dilakukan tahun ini untuk keperluan lokasi Teras Malioboro 2 yang baru. Pembebasan lahan itu berada di kawasan Kampung Ketandan dan samping Teras Malioboro 1 dengan luas total sekitar 9.800 meter persegi.
"Kedua lokasi tersebut akan dijadikan tempat relokasi bagi 1.041 pedagang kaki lima (PKL) yang saat ini berjualan di Teras Malioboro 2," kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM DIY Srie Nurkyatsiwi Selasa (15/8).
Saat ini tengah proses penyusunan Detail Engineering Design (DED) pembangunan Teras Malioboro 2 baik sisi barat maupun timur. Target pembangunan gedung akan dilakukan akhir 2024 atau awal 2025 mendatang.
"Tahun ini kita sudah selesai (pembebasan) di belakang Ramayana (Kampung Ketandan), itu kan butuh proses bagaimana DED-nya, harapannya 2024 mulai dibangun," ujarnya.
Dia menyebut relokasi pedagang ini tak sekedar memindahkan ke lokasi baru. Namun, juga menjadi bagian ekosistem penghidupan di lokasi baru yang harus tetap jalan dan naik kelas. Pedagang juga wisatawan nyaman beraktivitas di tempat tersebut.
Dengan begitu, Kampung Ketandan dapat semakin ramai dikunjungi dan mempengaruhi kesejahteraan pedagang jika sudah direlokasi nanti.
"Pemerintah bukan parsial melakukan ini, asal pindah. Ini lintas sektor dari sisi pariwisata budaya. Karena sudah berjualan di tempat sesuai peruntukannya, bagaimana legalitas, mem-branding dan lain-lain," jelasnya.
Pun akses ke Kampung Ketandan juga menjadi perhatian. Tempat Khusus Parkir (TKP) Ketandan telah tersedia, meski belum banyak yang mengetahui. Ini satu upaya juga mendukung kawasan Ketandan menjadi kawasan China Town.
"Ketandan sudah kayak pecinan, akan dinamai kawasan pecinan atau China Town ini kan menjadi konsep. Parkir juga harus menjadi pemikiran, dan menjadi satu kesatuan ruang," tambahnya. (wia)
Editor : Amin Surachmad