RADAR JOGJA - Sepasang laki-laki dan perempuan siswa SMAN 1 Jogja dan SMAN 8 Jogja terpilih menjadi lurah. Berbeda dengan kebanyakan lurah yang berusia di atas 25 tahun, kedua pelajar itu terpilih menjadi lurah saat usianya baru menginjak 17 tahun. Keduanya yakni Muhammad Deva Putra Prathama dan Chelsya Quaneyshaila Oktalika. Mereka terpilih menjadi lurah usai menjalani seleksi voting dan orasi. Bukan lurah biasa, Deva dan Chelsya, sapaan mereka resmi dilantik menjadi lurah di Desa Bahagia.
Desa Bahagia menjadi tempat karantina bagi para calon paskribraka Kota Jogja 2023. Sebagai lurah, Deva dan Chelsya memiliki tanggung jawab yang terbilang berat. Mereka diharapkan bisa menjadi sosok pemimpin bagi para anggota paskibraka lainnya. "Kami memikul tanggung jawab besar karena kami jadi lurah. Kami menyatukan rasa, hati, dan pikiran paskibraka. Dengan menjabat lurah bisa mendekatkan kami dengan teman-teman. Membuat kami mengenal satu sama lain," ujar Chelsya Minggu (13/8/23).
Sementara itu, Lurah Putra Deva menjelaskan, ketugasan lurah dibantu carik. Tugas carik tak jauh beda dengan lurah. Mereka dituntut untuk bisa menyatukan antar anggota paskibraka dan turun tangan saat terjadi konflik. "Kami mengadakan sesi evaluasi setelah latihan. Tujuannya agar kami tau kesalahan kami dan kami bisa mencari solusinya bersama. Kami juga bisa membuka tempat untuk bercerita bagi teman-teman, apa saja keluh kesah yang dialami," kata Deva.
Saat orasi, Deva memiliki visi dan misi untuk merangkul keluarga calon paskibraka Kota Jogja 2023. Dia juga memiliki target untuk bisa menyukseskan pengibaran dan penuruan bendera saat 17 Agustus nanti. "Dan kami tetap menjalin kekeluargaan satu sama lain," katanya.
Wakil Koordinator Pelatihan Paskibraka Kota Jogja Dimas Mahendra menjelaskan, Desa Bahagia merupakan konsep karantina bagi para anggota paskibraka. Di sini, para anggota paskibraka menerima berbagai pelatihan mental hingga pemberian materi-materi edukasi terkait wawasan kebangsaan. "Di Desa Bahagia ini sudah tidak ada latihan fisik. Hanya ada penguatan mental dan pemberikan materi edukasi lainnya," ujar Dimas.
Menurutnya, maksud bahagia pada Desa Bahagia tidak semata-semata soal bersenang-senang. Kata bahagia menjadi simbol kesiapan para calon paskibraka dalam menjalankan tugas mengibarkan bendera."Maksud bahagia di sini bukan bersenang-senang, tapi bahagia dalam konteks mentalnya sudah tertata dan teman-teman juga dapat materi dan wawasan yang banyak dari pembicara. Asupan juga diberikan secara baik oleh ahli gizi. Keluar dari desa bahagia dapat ilmu, pengalaman, keluar juga badannya sehat," jelasnya.
Dimas mengatakan, seluruh anggota paskibraka kini telah dalam posisi siap bertugas. Dia berharap, pengibaran dan penurunan bendera pada 17 Agustus nantinya tak terjadi kendala. Dia juga mengingatkan anggota paskibraka untuk terus fokus dan menjaga stamina menjelang 17 Agustus. "Persiapannya sudah matang sekali. Kami latihan ada dua tahap. Kalau kita lihat dari persiapannya adik-adik sudah cukup matang dan sudah cukup siap untuk ikut gladi kotor dan gladi bersih dan selanjutnya saat bertugas," ungkapnya. (isa/eno)
Editor : Satria Pradika