RADAR JOGJA - Beberapa waktu terakhir, asap hasil pembakaran sangat mudah ditemui di Kota Jogja. Kebanyakan masyarakat yang kebingungan ke mana membuang sampahnya, lantas menjadikan cara dibakar menjadi solusi.
Ketua RW 08 Kelurahan Ngampilan Joni Purwantoro mengaku masih ada sebagian warganya yang membakar sampah. Hanya saja, biasanya dalam jumlah yang sedikit sehingga tidak menimbulkan asap yang terlalu tebal.
Sampah yang dibakar juga sampah jenis residu yang tak lagi bisa diolah. Pembakaran dilakukan supaya volume sampah residu yang dibuang ke depo berkurang.
"Itu memang untuk mengurangi volume sampah di depo. Kalau bisa, dibakar sedikit-sedikit. Jadi, tidak menumpuk. Jadi, tiap hari, tapi sedikit. Paling hanya satu kresek kecil dibakar sudah jadi debu. Itu pun tidak lama kok. Tidak sampai satu menit sudah habis," ujarnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Rabu (9/8).
Sementara itu, Sekda Kota Jogja yang juga Ketua Forum Bank Sampah Kota Jogja Aman Yuriadijaya tak mau berkomentar soal maraknya aktivitas pembakaran sampah.
Menurutnya, Pemkot Jogja kini fokus pada gerakan Mengolah Sampah dan Limbah dengan Biopori Ala Jogja atau Mbah Dirjo Resik. Selain itu, dia juga tengah menggalakkan gerakan Mbah Dirjo Resik untuk pengolahan sampah residu plastik.
"Kita tidak ingin masuk pada ruang yang kontoversi. Pokoknya kita tetap istiqomah pada gerakan Mbah Dirjo Resik. Jadi, kalau urusan bakar membakar kita tidak berkomentar dulu. Kita fokus pada gerakan Mbah Dirjo Resik. Sebagai pemerintah saya tidak akan memberikan statemen apapun berkaitan dengan ini tapi yg penting kita akan menangani organik," ungkapnya. (isa)
Editor : Amin Surachmad