RADAR JOGJA - Anak aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir, Diva Suukyl Larasati turut hadir dalam acara bertema Dialog Mencintai Munir di Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja, Selasa (8/8/23). Dalam kesempatan itu, Diva mengatakan dalam diri setiap orang sebetulnya ada Munir yang memperjuangkan HAM. Namun, kadarnya berbeda.
"Tapi gagasan abah saya itu ada sesuatu di diri semua orang, hanya orang-orang tidak tahu cara mempertajamkannya, maka dari sini, mengapa diskusi-diskusi seperti ini penting, mengapa buku ini ditulis karena mempertajam benih-benih hak asasi manusia itu," tegasnya.
Saat tragedi terjadi, Diva masih berusia dua tahun. Sekarang dia diketahui sedang melanjutkan pendidikan jurusan hukum di Universitas Brawijaya. Dia mengatakan, apa yang terjadi kepada Munir tidak boleh terjadi kepada oranglain.
"Tragedi sudah terjadi, apa yang bisa saya lanjutkan untuk ke depannya, untuk menghindari hal ini terjadi pada orang lain dan tetap membawa keadilan bagi saya sendiri," ujarnya.
Talkshow Mencintai Munir yang diinisiasi oleh Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja juga menghadirkan istri almarhum Munir yakni Suciati dan sahabat Munir Ita Fatia Nadia. Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas juga turut hadir.
Busyro Muqoddas mengatakan sekarang ini pembunuhan tidak sebatas fisik saja. Namun pembunuhan sudah bertransformasi ke ranah yang sangat luas, pembunuhan terhadap idealisme.
Busyro Muqoddas meminta agar semua orang bisa belajar dari kasus pembunuhan terhadap Munir. Dia menegaskan agar jangan sampai menyerahkan diri kepada pembunuhan model baru, pembunuhan idealisme yang mengancam."Kita juga harus melakukan satu koreksi, jangan sampai kita juga menyediakan diri kita dibunuh. Secara idealisme, kita dibunuh," tegasnya. "Kemudian diberi penikmat-penikmat berupa kursi-kursi komisaris, staf ahli, staf ahli gak bisa ya ahli staf, staf khusus, semacam itu ecek-ecek banget itu banyak sekali," lanjutnya.
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Bahkan alumni UII Jogja ini juga menyatakan kongres nasional dan sejumlah organisasi mulai diganggu independensinya. Kondisi ini sangat jauh dari cita-cita almarhum Munir yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. "Banyak sekali kongres nasional dari sejumlah organisasi yang kemudian mulai diganggu independensi. Pemilihan rektor di negeri pun juga kemudian diganggu dan seterusnya," ujarnya. (lan/din)
Editor : Satria Pradika