RADAR JOGJA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY sedang berupaya mengembalikan keutuhan fisik Benteng Keraton Jogjakarta. Terutama Benteng Baluwarti.
Berada di kawasan Wijilan, Kecamatan Kraton, revitaslisasi benteng ini sudah sampai Kampung Mantrigawen. Saat ini, gapura pengganti Plengkung Bunthet (Madyasura) yang sempat tertutup oleh warung-warung milik warga sudah terlihat
Dalam pengerjaannya, ditemukan tengkorak yang diduga tengkorak manusia Senin (7/8). Lokasinya di Jl Suryomentaraman Wetan No 47 RT 55 RW 14 Panembahan, Kraton, Jogjakarta.
Baca Juga: Temukan Tengkorak di Proyek Revitalisasi Benteng Keraton Jogja
Benteng Keraton Jogja punya makna penting. Terlebih, benteng tersebut sudah berusia lebih dua abad. Benteng itu masih kokoh berdiri hingga kini.
Benteng Baluwerti dibangun oleh Sri Sultan HB II (1755-1792). Benteng selesai dibangun pada era pemerintahan Sri Sultan HB II.
Benteng memiliki lima buah pintu sebagai akses atau yang dikenal dengan plengkung. Benteng juga dikelilingi empat bastion pada empat sudutnya.
Plengkung tersebut antara lain Plengkung Tarunasura (Wijilan), Plengkung Nirbaya (Gadhing), Plengkung Jagasura, Plengkung Jagabaya, dan Plengkung Madyasura/Tambakbaya (Plengkung Bunthet).
Baca Juga: Kembalikan Keutuhan Fisik Benteng Baluwerti
Benteng Baluwerti ini menjadi saksi sejarah Geger Sepoy. Sebuah peristiwa saat bala tentara Inggris Keraton Jogja pada 19-20 Juni 1812. Akibat ledakan pada Geger Sepoy, Benteng Baluwerti hanya menyisakan tiga bastion. Yakni pojok beteng wetan, pojok beteng kulon, dan pojok beteng lor. Benteng Baluwerti yang terkena ledakan, saat ini tengah direnovasi oleh Keraton Jogja.
Editor : Amin Surachmad