Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Khawatir Sampah Pinggir Jalan Coreng Branding Jogja, PHRI: Reservasi Hotel Turun Masuki Agustus

Guntur Aga Tirtana • Senin, 7 Agustus 2023 | 22:49 WIB
KOTOR: Tumpukan sampah di salah satu ruas jalan di Jogja. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
KOTOR: Tumpukan sampah di salah satu ruas jalan di Jogja. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

RADAR JOGJA - Kondisi darurat sampah DIY yang berdampak pada penumpukan sampah di pinggir jalan berpotensi mencoreng branding Jogjakarta sebagai kota destinasi wisata. Bagaimana tidak, reservasi hotel terpantau menurun memasuki bulan Agustus ini.

Ketua BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI ) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, reservasi hotel berangsur menurun. Resevasi cukup bagus pada bulan Juni di angka 75-80 persen. Memasuki Juli menurun di angka 50-60 persen. Dan, turun lagi menjadi 40-55 persen di bulan Agustus ini.

"Nggak usah nunggu 17 Agustus, saat ini drop kok. Tapi saya nggak nyimpulkan sampah jadi penyebab," katanya kemarin (7/8).

Deddy menjelaskan faktor menurunnya reservasi ini diperkirakan karena faktor wisatawan mancanegara yang berkunjung ke DIJ belum maksimal. Sementara, wisatawan nusantara masa liburannya sudah habis.

Meski belum bisa dipastikan betul faktor penyebab menurunnya reservasi hotel itu, namun fenomena sampah yang berserakan di pinggir-pinggir jalan diklaim cukup mengganggu PHRI dalam membranding destinasi wisata Jogja.

"Sampah apakah bisa menurunkan okupansi, bisa karena itu branding. Kita khawatirkan tambah buruk citra Jogjanya. Ini harus kita jaga bersama, jangan sampai seolah-olah PHRI yang bertanggung jawab karena kontribusi sampahnya," ujarnya.

Terlebih, Deddy mengklaim sudah melakukan antisipasi sebelum muncul masalah yang berujung pada situasi darurat sampah akibat pembatasan TPST Piyungan. "Kami sudah lama melaksanakan itu (antisipasi) sebelum ada darurat sampah. Retribusi sampah yang sudah kita bayarkan dan selama ini walaupun ada darurat sampah kan tarifnnya masih ada, kita mengelola sampah sendiri," jelasnya.

Menurutnya, seluruh anggota sekitar 480an hotel dan restoran anggota PHRI dipastikan sudah melakukan pengolahan sampahnya masing-masing sebelum adanya status darurat sampah. Pun mereka
dipastikan mengantongi izin secara lengkap dan lulus sertifikasi hotel berbasis risiko, satu poin di antaranya mensyaratkan pengelolaan sampah. Ini mulai diterapkan sejak 2020 silam.

"Sebelum ada itu (pengelolaan sampah) dia nggak akan lolos untuk sertifikasinya. Kita sudah mengolah sampah pilah dan pilih sebelum darurat sampah," terangnya.

Di antara metode pengolahan sampah yang dilakukan yaitu memilih dan memilah mana sampah organik dan anorganik. Sampah organik ada yang dipihak keduaakan untuk dijadikan pupuk kandang dan macam-macam. Maupun dengan pengolahan biopori. Kemudian sampah anorganik bekerjasama dengan bank sampah di kampung atau desa sekitar wilayah anggota PHRI berada.

"Sejauh ini tdk ada kendala tapi ada catatan kita juga membayar retribusi sampah walaupun sudah mengelola sampah. Kita mohon pada pemerintah permasalahan ini bisa direspon pemda dengan cepat," tandasnya.

Meski perhitungan sampah yang dihasilkan dari anggota PHRI se-DI belum bisa dipastikan, kontribusi sampah paling banyak yang dihasilkan adalah sampah anorganik. Sebab selama ini hotel banyak memberikan pilihan tanpa breakfast atau sarapan pagi. Kebanyakan tamu hotel memilih kamar tanpa breakfast yang praktis dapat berkontribusi mengurangi sampah organik.

"Kita penggunaan plastik hanya berapa persen, kalau di SOP berbasis risiko itu maksimal 30 persen. Maka sekarang botol mineral terutama yang bintang 3-5 nggak dipakai tapi pakai botol hotel untuk megurangi sampah plastik. Laundry dulu tasnya plastik sekarang kain," tambahnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#phri diy #Reservasi hotel #branding