Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kurangi Penggunaan Sumber Timbunan Sampah, Sudut Pariwisata Harus Bersih

Winda Atika Ira Puspita • Jumat, 4 Agustus 2023 | 00:02 WIB
SOLUSI: Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana. (Winda Atika/Radar Jogja)
SOLUSI: Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana. (Winda Atika/Radar Jogja)

 

JOGJA - Persoalan pelik terkait darurat sampah masih tak terkendali di Kota Jogja. Gunungan sampah berserakan terjadi di mana-mana. Ini akibat masih terbatasnya pembukaan TPST Piyungan untuk zona transisi satu.

Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda DIY Tri Saktiyana meminta masyarakat Kota Jogja untuk menekan penggunaan sumber timbunan sampah. Itu baik organik maupun nonorganik.

"Sampah sekarang masih darurat. Sangat-sangat terbatas, Sleman dan Bantul sudah mengelola sendiri. Kota masih kita harapkan masyarakat untuk mengerem penggunaan sumber sampah," katanya di ruang kerjanya Kamis (3/8).

Tri Saktiyana tak menampik gerakan sampah di Kota Jogja terbilang bagus. Seperti biopori berbasis rumah tangga atau jogangan sementara dan lain-lain.

Namun, gerakan seperti mengurangi timbunan sampah masih perlu didorong. Sebab, walaupun ada program pengolahan sampah namun masih ada beberapa sampah yang tidak bisa terkendali di Kota Jogja.

"Kita berharap masyarakat Kota bisa mengurangi timbunan sampahnya. Bahkan, di rapat di Kepatihan disarankan sudah bawa tumbler. Walaupun nggak signifikan, tapi upaya itu penting untuk mengurangi produksi sampah," ujarnya.

Hal ini karena TPST Piyungan masih dibuka terbatas, sampah yang digeser ke sana sangat selektif dengan penjagaan ketat. Hanya sekitar 20 truk atau setara 100 ton setiap hari sampah yang bisa masuk ke zona transisi satu yang masih memiliki kapasitas terbatas. "Dan sistem jamnya terbatas 3 hari ono, satu hari off untuk kita evaluasi," jelasnya.

"Memang sampah ini terlanjur ada image gampang, murah, sepele, padahal sampah ini urusan yang mahal," sambungnya.

Terlebih di hari week end atau akhir pekan, titik vital Kota Jogja atau sudut-sudut pariwisata didorong harus bersih dari sampah. "Karena mereka datang dari luar kota, dan tidak tahu kita darurat sampah dalam konteks pariwisata kita tidak bisa mensosialisasikan tentang itu," terangnya.

Oleh sebab itu, ini perlu penanganan khusus terkait sampah pariwisata. Pemprov DIY bersama Pemkot Jogja akan berupaya keras memastikan objek pariwisata bersih dari tumpukan sampah.

Sebab, upaya pengurangan sampah tersebut tak bisa mengharapkan dari para wisatawan. Disamping mereka adalah tamu, sosialisasinya pun terbilang effort.

"Kita akan sekuat tenaga bersama kota tempat strategis, tempat wisata bersih dari sampah, kita programnya MPC mbuh piye carane. Ketika ada timbunan sampah pariwisata itu menjadi intensitas kita menanganinya, yang kita prioritas itu. Maksimal 100 ton ke Piyungan terbatas, itu yang kita masukan pertama kali dari tempat pariwisata," tambahnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#darurat sampah #Pemprov DIY #Tri Saktiyana #TPST Piyungan