JOGJA - Usai melakukan gebrakan dengan gerakan Zero Sampah Anorganik, Pemkot Jogja terus berinovasi mengurangi timbulan sampah. Kini masyarakat didorong bisa mengolah sampah organik dari sumbernya.
Gerakan ini dikemas dalam konsep Mengolah Limbah dan Sampah dengan Biopori Ala Jogja. Atau disingkat "Mbah Dirjo".
Sekretaris Daerah Pemkot Jogja Aman Yuriadijaya menjelaskan, lewat gerakan Mbah Dirjo masyarakat diminta untuk membuat biopori. Ini sebagai upaya untuk mengurangi sampah organik.
Bagi Aman, tak ada alasan untuk tidak bisa membuat bipori. Hal ini karena biopori bisa dibuat bahkan di lahan yang sempit sekalipun.
"Kita minta membuat biopori sesuai situasi kondisi di lapangan. Mau biopori reguler boleh, biopori jumbo boleh, biopori darurat juga boleh. Tergantung situasi dan kondisinya," jelasnya saat ditemui di kawasan Gedong Tengen, Kota Jogja, Rabu (2/8).
Aman menjelaskan, setidaknya ada 3 konsep lubang biopori yang bisa dibuat oleh masyarakat. Pertama, biopori reguler. Ini cocok digunakan pada daerah sempit maupun pekarangan rumah yang tidak terlalu luas. Biopori reguler berukuran diameter 4 inch dengan tinggi 80-100 cm.
Ada juga biopori jumbo. Ini dibuat dengan memanfaatkan barang bekas pakai. Misalnya, ember bekas, ember cat 25 kg, hingga galon bekas yang setiap sisinya diberi lubang.
"Yang kita dorong adalah pembuatan biopori darurat yang tanpa casing. Kita beri kesempatan itu karena menyesuaikan dengan luas lahan yanh ada. Dan yang terakhir bedanya (biopori) dengan jugangan, ada pila pengomposan agar produknya menjadi bermanfaat," ujarnya.
Gerakan Mbah Dirjo telah diresmikan oleh Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo minggu lalu. Selanjutnya, gerakan ini akan terus digaungkan dengan melibatkan Forum Bank Sampah Jogja dan masyarakat di tingkat RW.
"Kita minta forum bank sampah untuk mengidentifikasi titik dan jumlahnya (biopori)," katanya.
Ketua Forum Bank Sampah Kelurahan Bener Iswardi menuturkan, di wilayahnya telah dibuat berbagai jenis biopori. Mulai dari biopori reguler, losida (lodong sisa dapur), hingga ember tumpuk dan galon tumpuk.
Menurutnya, biopori dengan kedalaman maksimal satu meterlah yang paling paling ideal. Jika lebih dalam lagi, kandungan O2 di dalamnya akan berkurang. Sehingga proses pengomposan tak berjalan maksimal. Bagi Iswardi, mengolah sampah dengan biopori sangat memberi keuntungan.
"Di rumah saya mencoba dua lubang biopori dan dua lubang ember tumpuk. Setelah saya laksanakan ternyata saya masih kekurangan sampah," ungkapnya. (isa)
Editor : Amin Surachmad