Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Supermoon Terjadi Dua Kali Selama Agustus 2023

Guntur Aga Tirtana • Rabu, 2 Agustus 2023 | 23:06 WIB
INDAH: Supermoon di Jogjakarta. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)
INDAH: Supermoon di Jogjakarta. (Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja)

 

JOGJA - Fenomena bulan purnama atau supermoon terjadi saat bulan berada dekat dengan bumi. Fenomena ini terjadi dua kali selama bulan Agustus 2023, yakni pada awal dan akhir bulan.

"Tanggal 2 Agustus dini hari dan 31 Agustus, sama, sebelum subuh di langit barat," ujar Kepala Pusat Studi Astronomi (Pastron) Universitas Ahmad Dahlan, Yudhiakto Pramudya, Rabu (2/8/2023).

Purnama pertama muncul pada 2 Agustus 2023 dini hari. Posisi Bulan berada dekat dengan bumi, atau disebut sebagai perigee. Kawah Bulan bisa terlihat jelas dalam posisi ini.

Karena jaraknya lebih dekat, maka terlihat lebih besar dan lebih terang. Bulan terkesan lebih besar dari biasanya, sekitar 7 hingga 15 persen lebih terang.

"Saat supermoon, Bulan terlihat lebih besar, ukuran diameter sudut lebih besar dan karena lebih dekat ke bumi, sinarnya lebih terang," jelasnya.

Sebetulnya ini fenomena yang sering terjadi, bukan sesuatu yang langka. Di Indonesia fase purnama terlihat pada 2 Agustus 2023 dini hari. Sedangkan waktu terdekat jarak Bulan dan Bumi terjadi pada pukul 12.00 WIB. Namun tidak terlihat kasat mata karena siang.

"Fase penuh bulat penuh tadi jam satu dini hari, hampir jam 2 dini hari. Kalau Bulan mendekat ke kita jam 12 siang nanti tapi gak kelihatan," jelasnya.

"Mau melihat saat senja juga masih terlihat bulat juga. Mungkin hampir Isya masih terlihat di langit timur," lanjutnya.

Fenomena supemoon memiliki pengaruh terhadap bumi dan isinya. Ketiga benda langit, bumi, matahari dan bulan saling berkaitan dan tarik menarik, ada hukum grafitasi.

Jika ketiga benda langit ini saling mendekat, maka grafitasinya kuat. Pada saat purnama, hasil perhitungan lebih besar daripada saat Bulan sabit atau lainnnya.

Ada dua fase Bulan yang memberikan gaya gravitasi, yaitu pada saat bulan purnama dan bulan baru atau yang biasa disebut hilal. Pengaruh ke benda padat tidak terlalu terlihat signifikan. Namun pengaruh ke benda cair sangat terlihat.

"Dampaknya yang terasa benda cair yaitu laut. Dalam konteks ini dampaknya pasang dan surut. Memang setiap hari ada pasang surut, tapi pasang yang paling tinggi dan paling surut paling surut saat fase Bulan Baru dan Bulan Purnama," jelasnya. (lan).

Editor : Amin Surachmad
#matahari #supermoon #purnama