Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

DPRD DIY Dorong Terobosan Solusi Jangka Pendek Atasi Sampah Kota Jogja

Winda Atika Ira Puspita • Rabu, 2 Agustus 2023 | 18:29 WIB
SOLUSI: Anggota DPRD DIY saat Menemui Pj Wali Kota Jogja di Balaikota Jogja untuk meminta solusi atasi permasalahan sampah Senin (1/8/23). (ISTIMEWA)
SOLUSI: Anggota DPRD DIY saat Menemui Pj Wali Kota Jogja di Balaikota Jogja untuk meminta solusi atasi permasalahan sampah Senin (1/8/23). (ISTIMEWA)

 

JOGJA - Kalangan legislatif DPRD DIY mendorong eksekutif dengan adanya terobosan solusi jangka pendek untuk mengurai permasalahan sampah. Utamanya di Kota Jogja, sejak penutupan TPST Piyungan tumpukan sampah bermunculan di berbagai titik lokasi.

Anggota DPRD DIY Dr Raden Stevanus C. Handoko mengatakan, Kota Jogja menjadi tidak tampak indah dengan tumpukan sampah. Diharapkan ada terobosan jangka pendek, menengah, dan panjang untuk mengurai permasalahan darurat sampah.

"Saya berharap ada terobosan jangka pendek, menengah dan lanjang untuk mengurai permasalahan sampah perkotaan," katanya Selasa (2/8/23).

Melihat hal itu, Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) berasal dari Dapil Kota Jogja itu bertemu dengan Pj Wali Kota Jogja Singgih Raharjo di Kantor Balaikota (1/8/23). Dia menyebut, solusi jangka pendek sangat diperlukan saat ini.

Mengingat masyarakat sudah mulai resah atas kondisi perkotaan yang sudah terjadi penumpukan sampah dimana-mana. "Sampah yang menumpuk bahkan sudah banyak dihinggapi lalat-lalat dan berpotensi berakibat buruk terhadap kesehatan warga," ujarnya.

Terlebih di Kota Jogja, sudah marak adanya program-progam pengolahan sampah tingkat komunitas warga (RW), bank sampah, instalasi kandang maggot, dalam skala kecil dan sebagainya.

Salah satu program yang dilakukan oleh masyarakat adalah proses 3R seperti mengurangi, menggunakan ulang dan mendaur ulang sampah. Pemilahan sampah dilakukan didalam proses tersebut. "Nah itu perlu disosialisasikan, dikembangkan dan di-support agar terus berjalan dan optimal," jelasnya.

Dia mencontohkan, seperti di Kelurahan Kricak ada swadaya masyarakat yang membangun instalasi pengolahan sampah menggunakan metode inovasi pengelolaan sampah organik dengan biokonversi maggot Black Soldier Fly (BS).

Maggot berguna dalam proses penguraian bahan-bahan organik karena maggot mengkonsumsi sampah sayuran dan buah. Dan kemampuan maggot dalam mengurai sampah sangat cepat.

“Saya berharap sekali, instalasi pengolahan sampah yang mudah, simple, berbasiskan masyarakat/komunitas terus didorong dan mendapatkan perhatian dan dikembangkan diberbagai kelurahan yang ada di Kota Jogja," terangnya.

Pun dia mendukung gerakan kolaborasi bersama semua pihak, keterlibatan kampus-kampus, pelaku usaha dari berbagai jenis sektor usaha yang sangat banyak, masyarakat. Hal yang dinilai penting pemerintah kota harus benar-benar hadir ditengah-tengah masyarakat yang sudah mulai resah terkait sampah.

"Permasalahan sampah perkotaan di Jogja sudah dalam kondisi darurat dan perlu ada solusi yang komprehensif," ucapnya.

Hal itu bisa dimulai dengan pembangunan instalasi-instalasi pengolahan sampah berbasis masyarakat, penambahan lokasi TPS 3R  dengan skala yang lebih disesuaikan dengan kondisi kota Jogja. Serta Pembangunan instalasi lainnya yang ramah lingkungan dengan skala perkotaan.

"Untuk tata Kelola pengolahan sampah jangka menengah dan panjang perlu segera dilakukan kajian ulang yang mendalam dan harus dipastikan dapat segera dimulai diimplementasi program tersebut," tambahnya.

Pada kesempatan pertemuan tersebut, Pj Wali Kota Singgih Raharjo menyampaikan bahwa pemerintah Kota Jogja meluncurkan gerakan mengolah limbah dan sampah dengan biopori ala Jogja (Mbah Dirjo).

Singgih menjelaskan biopori jadi solusi yang patut dicoba untuk mengatasi masalah sampah di wilayahnya. Sampah organik yang mendominasi sampah di Jogja, menurutnya dapat dikurangi dengan penanganan menggunakan biopori.

“Melalui model pengelolaan biopori untuk menampung sampah organik, optimistis volume sampah di Kota Jogja dapat ditekan," katanya.

Terkait penumpukan sampah dijalan-jalan perkotaan, Singgih bersama jajarannya melalui Dinas Lingkungan Hidup telah melakukan penyisiran di berbagai titik yang potensial terjadi tumpukan sampah.

“Sampah yang menumpuk diberbagai titik diperkotaan, telah dilakukan pengangkutan," jelasnya.

Pembukaan secara terbatas TPST Piyungan untuk Kota Jogja akan coba dimanfaatkan untuk mengurai tumpukan sampah di berbagai titik. Setidaknya, kuota 100 ton sampah per hari dari Kota Jogja bisa terkirim ke TPA Regional Piyungan.

Dalam kesempatan yang sama hadir juga Theresa Naumi sebagai pelaku usaha yang memiliki harapan agar persoalan sampah ini dapat segera terurai, agar citra kota Jogja sebagai kota pariwisata yang nyaman tidak tercoreng.

Menururnya, edukasi terkait pengolahan sampah rumah tangga, perlu juga disampaikan melalui berbagai channel media agar ada pemahaman yang sama, arah gerak yang sama.

“Saya berharap semua pihak bisa berkolaborasi, program-program lama dalam usaha pengolahan sampah di masyarakat terus mendapatkan support agar terus berjalan dan berkembang," imbuhnya. (wia)

Editor : Amin Surachmad
#darurat sampah #biopori #Pemkot Jogja #dprd diy #Singgih Raharjo