Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Benteng Baluwerti Miliki Lima Pintu, Dikelilingi Empat Bastion

Wulan Yanuarwati • Selasa, 1 Agustus 2023 | 15:35 WIB
BONGKAR: Salah satu bagian Benteng Keraton Jogja yang direvitalisasi.
BONGKAR: Salah satu bagian Benteng Keraton Jogja yang direvitalisasi.

 

RADAR JOGJA - Benteng Baluwerti dibangun oleh Sri Sultan HB I dan selesai pada era pemerintahan Sri Sultan HB II. Terdiri dari lima buah pintu sebagai akses atau yang dikenal dengan plengkung, dan dikelilingi empat bastion pada empat sudut benteng.


Plengkung tersebut antara lain Plengkung Tarunasura (Wijilan), Plengkung Nirbaya (Gadhing), Plengkung Jagasura, Plengkung Jagabaya, dan Plengkung Madyasura/Tambakbaya (Plengkung Bunthet).


Benteng Baluwerti ini menjadi saksi sejarah Geger Sepoy. Sebuah peristiwa saat bala tentara Inggris Keraton Jogja pada 19-20 Juni 1812. Akibat ledakan pada Geger Sepoy, Benteng Baluwerti hanya menyisakan tiga bastion. Yakni pojok beteng wetan, pojok beteng kulon, dan pojok beteng lor. Benteng Baluwerti yang terkena ledakan, saat ini tengah direnovasi oleh Keraton Jogja.


"Untuk dikembalikan sebetulnya tidak ada masalah, tidak dipermasalahkan tapi jejak rekam sejarahnya jangan sampai hilang, bagian dari proses, pernah ada, hancur, hilang, ada lagi," ungkap Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI) DIJ Agus Tony Widodo Minggu (16/7).


Menurut Agus, dalam proses renovasi benteng harus menyisakan space. Untuk dibangun semacam museum atau replika di lokasi tersebut. Yang kemudian diperlihatkan narasi sejarahnya. “Narasi kesejarahan tetap ada di situ, setengahnya ada museum. Oh dulu seperti ini dihancurkan, ada jejak itu," jelasnya.


Agus mencontohkan, penerapannya seperti yang ada di Tugu Golong Gilig Jogja. Ada replika yang dibangun di sisi selatan tugu yang menunjukkan dan menarasikan bahwa Tugu Jogja bentuknya berubah. Sehingga masyarakat mengetahui perkembangan bangunan tugu tersebut dari masa ke masa.

"Dulu bentuk nggak seperti ini, kemudian hancur dan besar lebih dari sekarang utu ditampilkan. Itu bagian sejarah, edukasi masyarakat," ujarnya.

Kondisi di Indonesia dan Eropa memang beda. Agus menyebut, bangunan bersejarah di Eropa akan dibiarkan saja. Dalam arti tetap dikondisikan apa adanya. "Beda, di Eropa misal contoh di Yunani, acropolis juga biar hancur aja sesuai kondisi, biar alam yang menentukan," ujarnya.


Namun berbeda dengan kondisi di Indonesia. Khususnya di Jogja, beberapa kali situs dikembalikan dengan bantuan dana keistimewaan. “Meski sudah tidak asli (situsnya, Red),” lontarnya. (lan/eno)

Editor : Satria Pradika
#wijilan #Plengkung Bunthet #keraton jogja #Benteng Baluwerti