JOGJA - Kereta Kanjeng Nyai Jimat milik Sri Sultan HB I merupakan salah satu pusaka yang dijamas oleh Keraton Jogja, pada Jumat (28/7/2023). Tradisi Jamasan Pusaka dilakukan setiap tahun, pada bulan Suro atau bulan pertama kalender Jawa.
Kereta Kanjeng Nyai Jimat dibuat di Belanda kisaran tahun 1740-1750, seperti dilansir pada laman kratonjogja.Kereta Kanjeng Nyai Jimat merupakan hadiah dari Gubernur Jenderal VOC bernama Jacob Mussel kepada Sri Sultan HB I. Diberikan setelah perjanjian Giyanti pada 1755.
Bentuk Kereta Kanjeng Nyai Jimat khas buatan Eropa. Kereta bergaya Renaissance, merupakan kereta yang biasa digunakan oleh kaum bangsawan maupun raja.
Kereta Kanjeng Nyai Jimat digunakan Sri Sultan HB I (1755-1792) hingga Sri Sultan HB III (1812-1814). Setelah itu kereta tidak digunakan sebagai kereta kencana Sultan, namun tetap disimpan di Keraton Jogja sebagai kereta pusaka Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Sebagai kereta pusaka, setiap tahun pada hari Selasa Kliwon atau Jumat Kliwon pada bulan Suro, Kereta Kanjeng Nyai Jimat dikeluarkan untuk ritual Jamasan atau dibersihkan.
Ritual Jamasan biasa dihadiri masyarakat umum. Mereka menghadiri upacara agar mendapatkan air yang digunakan untuk membersihkan Kereta Kanjeng Nyai Jimat.
Dipercaya bahwa air perasan jeruk nipis dan air kembang setaman yang telah digunakan dalam Jamasan Kereta Kanjeng Nyai Jimat membawa berkah. Dan dapat menyembuhkan penyakit.
Kereta Kanjeng Nyai Jimat dapat dilihat masyarakat maupun wisatawan di Museum Wahanarata yang baru saja dilaunching belum lama ini, pasa Selasa (18/7/2023). Sebelumnya, Museum Wahanarata bernama Museum Kereta.
Setidaknya, terdapat 21 kereta pusaka yang dapat dinikmati pengunjung di Museum Wahanarata. Termasuk, kereta Kanjeng Nyai Jimat milik Sri Sultan HB I. (lan)
Editor : Amin Surachmad