Salah seorang penikmat telur puyuh congkel Alvi Haabibah, 23, menyebut, jajanan itu meski legendaris tetapi buat pembelinya seperti bernostalgia. Dia mengaku sudah lama tak menjumpai jajanan tersebut.
"Terakhir njajan waktu SD. Sekarang sudah jarang ketemu sama penjual itu. Sekarang seringnya lihat telur mi yang dicetak bulat-bulat. Rasanya hampir sama ya, bedanya kalau itu pakainya telur ayam dan dicampur mi," ingatnya saat ditemui (9/6).
Dia mengatakan, jika bertemu dengan penjual telur puyuh congkel akan membelinya. Sembari mengingat-ingat zaman dulu. "Soalnya biasanya kalau makan makanan jadul jadi nostalgia, jadi nginget-inget momen waktu itu," kata Alvi.
Penikmat lain Woro Puri Puspita, 24, mengakui hal yang sama. Dia mengatakan, biasanya telur puyuh congkel itu ada di depan SD. "Rasanya tak kalah enak dan nikmat dari jajanan yang lain. Harganya juga murah, pas buat kantong anak sekolah," ujarnya (9/6).
Rasanya yang gurih, bikin penikmatnya ketagihan. Jadi mau lagi dan lagi. Apalagi kalau disandingkan dengan saus, makin menggoda dan enak di lidah.
"Dulu kalau beli biasanya selepas pulang sekolah atau saat jam istirahat. Kalau sekarang, saya sudah jarang melihat. Rasanya seperti didadar, teksturnya empuk agak kenyal," tandasnya. (han/laz/sat)
Editor : Editor Content